Bandar Lampung (Lampost.co) — Kondisi ekonomi nasional dalam satu tahun terakhir mengalami sejumlah fase yang memengaruhi kinerja sektor riil, termasuk properti. Dinamika tersebut terutama terasa pada masa peralihan pemerintahan hingga memasuki kuartal III 2025.
Praktisi ekonomi Lampung, Erson Agustinus, menilai fase peralihan tersebut seiring kondisi ekonomi yang belum stabil. Situasi itu tercermin dari meningkatnya gejolak sosial serta perlambatan aktivitas ekonomi di sejumlah sektor.
“Kalau lihat ekonomi beberapa tahun terakhir, ada beberapa fase. Di antaranya fase peralihan pemerintahan dan kondisi ekonomi tidak sedang baik-baik saja,” ujar Erson, dalam podcast bersama Lampung Post, Sabtu, 27 Desember 2025.
Menurutnya, upaya pembenahan ekonomi mulai masif setelah gebrakan kebijakan di sektor fiskal pascapergantian Menteri Keuangan. Salah satunya melalui kebijakan penggelontoran Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan.
“Kebijakan penggelontoran SAL Rp200 triliun ke bank Himbara turut mengungkit peningkatan kredit sehingga mendorong perputaran ekonomi,” kata dia.
Erson menilai dampak kebijakan tersebut memang belum terasa secara langsung. Namun, ia optimistis pengaruhnya terhadap sektor riil, termasuk properti, akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan.
“Dampak kebijakan ini butuh waktu. Tapi saya optimistis dampaknya mulai terlihat atau terbukti dalam 3 hingga 6 bulan ke depan,” ujarnya.
Pertumbuhan Kredit
Ia menjelaskan, salah satu indikator penting pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan kredit. Hingga November 2025, pertumbuhan kredit masih berada di level 7,74 persen dan belum mencerminkan pemulihan yang kuat.
“Pertumbuhan kredit ini memang belum membaik karena di posisi terakhir masih di angka 7,7 persen per November 2025. Ke depan mampu tumbuh dua digit,” ucapnya.
Di sektor properti, Provinsi Lampung memiliki potensi pasar yang besar. Jumlah penduduk sekitar 9,5 juta jiwa, Lampung menjadi salah satu daerah dengan pasar properti terbesar di Sumatera.
Pada segmen perumahan subsidi, kinerja relatif stabil dan tidak terlalu terdampak kondisi ekonomi di awal 2025. Hal itu tertopang keberlanjutan kebijakan subsidi pemerintah.
“Di segmen perumahan subsidi, awal 2025 tidak begitu terpengaruh kondisi ekonomi. Subsidi tetap jalan dengan kuota awal 220 ribu unit rumah subsidi dan pada Juni bertambah menjadi 350 ribu unit,” kata dia.
Adapun segmen properti komersial masih menghadapi tantangan akibat tekanan ekonomi. Meski begitu, pangsa pasar properti komersial di Lampung masih terbuka luas untuk berkembang.
“Di segmen komersial memang terganggu kondisi ekonomi dan tetap menjadi perhatian. Tapi, secara pangsa pasar, Lampung masih memiliki ruang yang cukup luas,” kata dia.







