Jakarta (Lampost.co) — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan aktivitas sesar memicu gempa bumi di Konawe Selatan (Konsel) dan Kendari. Gempa tersebut terjadi pada Jumat siang, 2 Januari 2026, sekitar pukul 13.19 WITA.
Poin Penting:
-
Gempa magnitudo 1,6 mengguncang Konsel dan Kendari.
-
BMKG memastikan gempa akibat aktivitas sesar Kendari Central.
-
Perkuat sistem pemantauan gempa.
Kepala BBMKG Wilayah IV, Irwan Slamet, menyebut gempa mengguncang wilayah Ranomeeto, Konawe Selatan. Menurutnya, gempa tergolong gempa bumi tektonik dangkal dan kekuatannya relatif kecil.
BMKG mencatat gempa berkekuatan magnitudo 1,6. Meski kecil, sebagaian masyarakan tetap merasakan getaran. Episenter gempa berada pada koordinat 4,05 Lintang Selatan dan 122,42 Bujur Timur. Lokasi tersebut berada di daratan dengan titik pusat gempa berjarak sekitar 41 kilometer timur laut Konawe Selatan.
Baca juga: Gempa 3.5 M Guncang Pesisir Barat Lampung
BMKG juga mencatat kedalaman hiposenter mencapai tujuh kilometer. Dengan kedalaman tersebut, gempa tergolong dangkal dan getaran terasa di sekitar lokasi.
Irwan menjelaskan pemicu gempa aktivitas Sesar Kendari Central. Sesar tersebut memang aktif dan berpotensi memicu gempa kecil.
Oleh karena itu, BMKG meminta masyarakat tetap waspada. Berdasarkan peta guncangan BMKG, intensitas gempa mencapai II MMI. Beberapa orang akan merasakan getaran. Selain itu, benda ringan yang tergantung terlihat bergoyang.
Warga Ranomeeto menjadi kelompok yang paling merasakan guncangan. Namun, kondisi berlangsung singkat sehingga kepanikan tidak meluas.
Tidak Ada Korban Jiwa
BMKG menegaskan belum menerima laporan kerusakan bangunan dan tidak ada korban jiwa. Situasi wilayah tetap aman dan terkendali.
Hingga pukul 14.35 WITA, BMKG belum mendeteksi gempa susulan. BMKG terus memonitor secara real time dan meminta masyarakat tetap tenang.
Irwan juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya informasi tidak resmi. Menurutnya, hoaks sering muncul setelah gempa. Karena itu, warga harus selektif.
BMKG meminta masyarakat hanya mengakses kanal komunikasi resmi. Informasi valid tersedia melalui website dan media sosial BMKG. Selain itu, media massa tepercaya juga menjadi rujukan.
Gempa kecil seperti ini sering terjadi di wilayah Sulawesi Tenggara. Sebab, kawasan tersebut memang berada pada zona sesar aktif. Karena itu, edukasi kebencanaan tetap penting.
BMKG terus memperkuat sistem pemantauan gempa. Selain itu, sosialisasi mitigasi terus digencarkan. Langkah itu bertujuan mengurangi risiko kepanikan.
Dengan kesiapsiagaan yang baik, dapat menekan dampak gempa. Masyarakat juga untuk memahami karakter gempa lokal. Karena itu, sangat membutuhkan respons yang tepat.







