Jakarta (Lampost.co) — Perum Bulog mencatat pengadaan beras nasional mencapai angka signifikan sepanjang 2025. Total pengadaan setara beras tercatat 3.191.969 ton hingga akhir tahun.
Poin Penting:
-
Pengadaan beras nasional Bulog 2025 mencapai 3,19 juta ton.
-
Penyerapan GKP tertinggi sepanjang sejarah Bulog.
-
Bulog perkuat swasembada dan ketahanan pangan.
Capaian tersebut berasal dari penyerapan 4.537.490 ton gabah kering panen (GKP). Selain itu, Bulog menyerap 6.863 ton gabah kering giling (GKG) dan 765.504 ton beras.
Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, menilai capaian pengadaan beras tersebut sangat strategis. Menurutnya, angka tersebut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP) secara berkelanjutan.
Baca juga: Bulog Pastikan Harga Beras Premium dan Medium Sesuai HET Jelang Tahun Baru
Rizal juga menyebut penyerapan GKP pada 2025 menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Bulog. Karena itu, ia menegaskan peran aktif Bulog di lapangan menjadi kunci keberhasilan.
Bulog, kata Rizal, hadir langsung di sentra produksi. Petani mendapat kepastian harga sesuai ketentuan pemerintah. “Kami turun langsung ke petani. Kami memastikan gabah terserap sesuai harga pemerintah,” ujar Rizal, Jumat, 2 Januari 2026.
Ia menegaskan kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan nyata negara kepada petani. Menurutnya, pengadaan beras nasional bukan sekadar mengejar angka statistik. Sebaliknya, langkah itu menjadi fondasi menuju swasembada pangan nasional.
Selain pengadaan beras nasional, Bulog juga mencatat pengadaan jagung domestik sepanjang 2025. Total pengadaan jagung mencapai 101.968 ton.
Rinciannya, 101.770 ton berasal dari skema public service obligation (PSO). Sementara itu, 198 ton berasal dari kegiatan komersial.
Penyerapan jagung tersebut menjaga stabilitas harga di tingkat produsen. Di sisi lain, pasokan jagung nasional tetap terjaga.
Dari aspek distribusi, Bulog menyalurkan bantuan pangan beras 708 ribu ton. Program ini menyasar kelompok masyarakat rentan di berbagai daerah.
Program SPHP
Selain itu, Bulog menggulirkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Penyaluran SPHP beras mencapai 803 ribu ton sepanjang 2025. Sementara itu, SPHP jagung tercatat 51.211 ton.
Program SPHP berfungsi menahan lonjakan harga di tingkat konsumen. “Intervensi pasar kami lakukan terukur dan terawasi,” ujar Rizal.
Ia memastikan mekanisme pasar tetap berjalan sehat. Untuk memperluas akses pangan murah, Bulog juga menggelar gerakan pangan murah (GPM). Program tersebut berlangsung serentak di 4.337 titik seluruh Indonesia.
Bulog juga menggandeng Kementerian Pertanian dan Kementerian Dalam Negeri. Kolaborasi tersebut menekan harga dan menjaga daya beli masyarakat.
Dari sisi cadangan, stok PSO Bulog hingga akhir 2025 mencapai 3,25 juta ton. Angka tersebut melanjutkan tren positif ketahanan pangan nasional.
Sebelumnya, Bulog mencatat stok tertinggi sepanjang sejarah. Pada pertengahan 2025, stok sempat menyentuh 4,2 juta ton.
Dalam kondisi darurat, Bulog juga menyalurkan bantuan bencana. Total bantuan pangan bencana mencapai 14.227 ton di wilayah Sumatra.
Distribusi bantuan mencakup Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bulog memastikan bantuan tersalurkan cepat dan tepat sasaran. “Ketahanan pangan berarti negara hadir saat darurat,” kata Rizal.








