Jambi (Lampost.co) – Gubernur Jambi Al Haris merespons cepat kasus kekerasan yang melibatkan sejumlah siswa dan seorang guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Pemerintah Provinsi Jambi langsung menurunkan tim investigasi dari Dinas Pendidikan untuk mengumpulkan fakta secara objektif dan mencegah persoalan meluas.
“Saya sudah memerintahkan tim dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk turun langsung ke sekolah hari ini. Kita ingin melihat persoalan ini secara utuh dan tidak berkembang ke arah yang tidak kita inginkan. Kejadian ini sangat kami sesalkan,” ujar Al Haris di Jambi, mengutip Antara, Kamis, 15 Januari 2025.
Baca juga: Viral! Guru SMKN 3 Tanjab Timur Dikeroyok Siswa, Disdik Jambi Turun Tangan Usut Konflik Perseteruan
Menurut gubernur, aksi pengeroyokan terhadap guru mencoreng dunia pendidikan dan tidak boleh ada pembiaran. Ia menegaskan, setiap persoalan di lingkungan sekolah seharusnya diselesaikan melalui dialog dan pendekatan kekeluargaan, bukan dengan kekerasan.
“Dunia pendidikan tidak boleh ternodai oleh tindakan anarkis. Ini insiden yang tidak baik. Jika nanti ada temuan kesalahan dari pihak guru, pemerintah akan memberikan sanksi sesuai aturan,” tegasnya.
Guru SMKN 3 Tanjab Timur yang menjadi korban, Agus Saputra, memaparkan kronologi kejadian yang menimpanya. Ia menjelaskan, insiden bermula saat dia berada di luar kelas dan mendengar ucapan seorang siswa yang menurutnya tidak pantas ditujukan kepada guru.
“Saya dengar ada siswa yang memanggil saya dengan kata-kata tidak wajar. Saya langsung masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang mengucapkannya,” kata Agus.
Menurut Agus, siswa tersebut justru menantangnya. Dalam kondisi emosi, ia mengaku menampar wajah siswa tersebut. Situasi kemudian kembali memanas saat jam istirahat.
“Saat istirahat, siswa itu kembali menghampiri saya dengan ucapan menantang. Adu mulut pun terjadi, lalu beberapa siswa lain datang dan melakukan pengeroyokan terhadap saya,” jelasnya.
Agus juga menanggapi video yang beredar luas di media sosial yang memperlihatkan dia membawa senjata tajam jenis sabit. Ia menegaskan, sabit tersebut merupakan aset sekolah karena SMKN 3 Tanjab Timur memiliki jurusan berbasis pertanian.
“Sabit itu milik sekolah. Saya hanya berniat menggertak agar mereka bubar dan situasi tidak semakin buruk. Saya tidak punya niat melukai siapa pun,” ujarnya.
PGRI Prihatin
Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jambi, Nanang Sunarya, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut. Ia mengecam segala bentuk kekerasan terhadap guru, namun juga mengingatkan pentingnya sikap bijak dari tenaga pendidik.
“Secara organisasi, kami sangat menyayangkan kekerasan yang siswa lakukan terhadap guru. Di sisi lain, guru juga perlu menjaga komunikasi dan tindakan agar tetap mencerminkan keteladanan,” kata Nanang.
PGRI Provinsi Jambi mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjaga lisan, sikap, pola pikir, dan tindakan secara bijaksana demi menciptakan suasana belajar yang sehat.
“Kami berharap peristiwa ini tidak terulang dan menjadi pelajaran bersama. Lingkungan sekolah harus tetap menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi semua,” pungkasnya.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News








