Sukadana (Lampost.co) – Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memperkuat infrastruktur pengamanan kawasan taman nasional. Hal itu untuk mencegah terjadinya konflik antara satwa liar dan masyarakat di desa penyangga.
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD Zaidi, menegaskan pihaknya terus mengintensifkan penanganan konflik gajah liar dengan manusia di wilayah penyangga. Ia menyampaikan hal tersebut di Bandar Lampung, Senin (19/1).
Zaidi menjelaskan interaksi negatif antara satwa liar dan aktivitas manusia masih menjadi tantangan utama dalam pengelolaan kawasan konservasi. Untuk itu, Balai TNWK menjalankan berbagai langkah taktis di lapangan dan menempatkan pendekatan struktural sebagai prioritas ke depan.
Ia mengapresiasi keberadaan tanggul sepanjang 12 kilometer di sisi utara kawasan yang dibangun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan masih berada dalam kondisi kokoh. Namun, ia menilai pembangunan infrastruktur tambahan di sejumlah titik krusial tetap mendesak guna mencegah satwa keluar dari kawasan konservasi.
Balai TNWK merencanakan penguatan infrastruktur pengamanan dengan membangun tanggul dan kanal sepanjang 11 kilometer di wilayah perbatasan Kecamatan Way Jepara yang kerap mengalami konflik satwa liar.
Selain itu, Balai TNWK juga menyiapkan pembangunan pagar pengaman sepanjang 18 kilometer dari Muara Jaya hingga Margahayu. Selain itu, membangun Tembok Penahan Tanah (TPT) sepanjang 21 kilometer di titik-titik rawan lintasan gajah. Mulai dari batas utara hingga selatan kawasan taman nasional.
Balai TNWK juga membangun pembatas permanen pada batas alam sungai di area Way Pegadungan, Way Seputih, dan Sungai Kuala Penet. Adapun total panjang mencapai 60 kilometer.
Zaidi menyatakan infrastruktur tersebut berfungsi sebagai penghalang alami. Hal itu agar pergerakan gajah tetap berada di dalam kawasan konservasi dan tidak memasuki lahan milik warga.
Patroli
Untuk menekan potensi konflik, Balai TNWK juga mengintensifkan patroli di wilayah rawan, memasang GPS collar pada kelompok gajah liar untuk memantau pergerakan. Kemudian, memanfaatkan gajah jinak untuk memblokade dan menggiring gajah liar kembali ke habitat alaminya.
Dalam pengamanan kawasan, Balai TNWK memperkuat sinergi dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), mitra TNWK, serta unsur TNI dan Polri. Balai TNWK juga terus meningkatkan koordinasi lintas sektor dengan pemerintah daerah dan masyarakat agar dapat merespons laporan konflik secara cepat dan terukur.








