Bandar Lampung (Lampost.co) — Memasuki awal tahun 2026, industri teknologi global dihantam badai kelangkaan komponen yang jauh lebih destruktif dibandingkan era pandemi. Bukan lagi sekadar gangguan logistik, melainkan pergeseran struktural di mana 70 persen pasokan chip memori dunia (DRAM) kini diserap sepenuhnya oleh pusat data kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini mulai mengancam stabilitas harga perangkat hiburan konsumen, terutama PlayStation 5 Pro dan konsol generasi terbaru lainnya.
Laporan terbaru dari firma riset pasar menunjukkan bahwa raksasa semikonduktor seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron telah mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka ke High Bandwidth Memory (HBM) dan DDR5 kelas server. Langkah ini diambil demi mengejar margin keuntungan yang jauh lebih tinggi dari kontrak pusat data AI, namun di sisi lain, meninggalkan sisa pasokan yang sangat terbatas untuk pasar gaming.
Lonjakan Harga PS5 Pro di Pasar Lokal
Di Indonesia, dampak krisis ini mulai dirasakan oleh para gamer. Berdasarkan pantauan harga di berbagai marketplace per Januari 2026, PlayStation 5 Pro yang awalnya diharapkan mengalami stabilisasi harga, kini justru merangkak naik. Harga rata-rata PS5 Pro versi 2TB kini menyentuh angka Rp13,5 juta hingga Rp15,9 juta, tergantung pada ketersediaan stok dan paket bundel.
Biaya komponen memori kini mencakup hampir 36 persen dari total biaya produksi konsol kelas atas tersebut. Dengan harga chip RAM yang diprediksi akan naik lagi sebesar 70 persen sepanjang tahun 2026, Sony dan kompetitornya, Microsoft, berada dalam posisi sulit untuk mempertahankan harga ritel yang kompetitif.
Ancaman Bagi Konsol Generasi Berikutnya
Poin-poin krusial yang perlu diwaspadai dari krisis memori 2026:
- Dominasi AI Data Center: Pusat data kini mengonsumsi 70 persen wafer memori global, memaksa industri smartphone, laptop, dan konsol berebut sisa 30 persen pasokan.
- Kenaikan Biaya Produksi: Analis memprediksi biaya produksi konsol bisa melonjak 15-20 persen hanya untuk menutupi kenaikan harga DRAM dan penyimpanan SSD.
- Potensi Penundaan Rilis: Konsol masa depan seperti PlayStation 6 atau penerus Xbox terancam mengalami penundaan rilis hingga 2028 atau 2029 demi menunggu stabilitas kapasitas pabrik.
- Hilangnya Merek Konsumen: Penutupan lini bisnis memori ritel oleh beberapa produsen besar mempersempit opsi bagi manufaktur konsol untuk mendapatkan harga grosir yang murah.
Nasib Nintendo Switch 2 dan Pasar Handheld
Tidak hanya konsol rumahan, konsol genggam (handheld) seperti Nintendo Switch 2 yang dijadwalkan menjadi primadona tahun 2026 juga terkena imbas. Komponen memori pada Switch 2 diperkirakan menyerap 21 hingga 23 persen dari harga jualnya. Jika tren harga RAM tidak melandai, Nintendo diprediksi akan meluncurkan perangkatnya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari ekspektasi awal para penggemar.
Para analis menyarankan bagi konsumen di Lampung dan sekitarnya yang berencana melakukan upgrade perangkat gaming tahun ini untuk mempertimbangkan pembelian lebih awal. Kelangkaan ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada kuartal ketiga 2026, di mana stok barang di ritel fisik mungkin akan semakin menipis seiring dengan meningkatnya permintaan global untuk infrastruktur AI.








