Jakarta (lampost.co)–Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberi atensi potensi ancaman kesehatan ganda di tengah tingginya intensitas hujan. Pihaknya menginstruksikan Dinkes DKI untuk memperketat pengawasan terhadap fenomena penyakit superflu serta tren kenaikan infeksi DBD.
Meski hingga saat ini otoritas kesehatan memastikan belum ada temuan kasus superflu di Jakarta, kewaspadaan dini tetap menjadi prioritas. Hal ini menyusul adanya laporan fluktuasi kasus DBD yang mulai menunjukkan tren mengkhawatirkan, khususnya di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat dalam beberapa pekan terakhir.
“Dua aspek utama yang saya tekankan kepada Dinas Kesehatan adalah pengawasan ketat terhadap superflu dan DBD,” tegas Pramono, baru-baru ini.
Pramono menyatakan optimisme terhadap kesiapan sistem kesehatan Jakarta dalam menghadapi ancaman DBD. Menurutnya, infrastruktur medis di Jakarta sudah sangat mapan, mulai dari tingkat Puskesmas Pembantu hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
“Penanganan DBD di Jakarta saya nilai sudah sangat teruji. Sistem rujukan dan fasilitas medis kita sudah siap sepenuhnya untuk menangani pasien jika terjadi lonjakan,” tambahnya.
Evaluasi Sebaran Kasus
Data dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat mengungkapkan bahwa grafik kasus DBD mulai mendaki sejak kuartal terakhir tahun 2025. Hingga pertengahan Januari 2026 saja, tercatat sudah ada 19 laporan kasus yang tersebar di beberapa titik.
Kepala Sudinkes Jakarta Barat, Sahruna, merinci bahwa wilayah Kalideres dan Tambora menjadi titik dengan temuan kasus terbanyak. Sementara itu, wilayah Palmerah sejauh ini masih melaporkan nihil kasus.
Berdasarkan prediksi BMKG mengenai kondisi iklim Januari 2026 yang lembap, potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti akan meningkat. Pemerintah menggencarkan pemantauan jentik nyamuk secara masif dengan mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). (MI)








