Bandar Lampung (Lampost.co) — Memasuki pekan terakhir Januari 2026, pasar perangkat keras komputer (PC) global maupun domestik tengah berada dalam situasi yang sangat menantang. Fenomena yang oleh para pakar industri disebut sebagai “RAMpocalypse” telah menyebabkan harga komponen memori melonjak drastis, sementara inovasi teknologi CPU dan GPU mulai bergeser sepenuhnya ke arah akselerasi kecerdasan buatan (AI).
Krisis Memori Global: Harga RAM dan SSD Tak Terkendali
Kondisi pasar hardware di awal tahun 2026 ini didominasi oleh kelangkaan chip memori DRAM dan NAND. Laporan industri terbaru menunjukkan bahwa sekitar 70 persen pasokan chip memori dunia kini terserap oleh pusat data AI untuk produksi High Bandwidth Memory (HBM). Akibatnya, pasar konsumen hanya mendapatkan sisa pasokan yang sangat terbatas.
Di pasar Indonesia, harga RAM DDR5 kapasitas 32GB (6000 MHz) yang pada pertengahan 2025 masih berada di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp2 juta, kini melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp5 juta sampai Rp6 juta per set. Lonjakan ini mencapai 300 hingga 500 persen tergantung pada merek dan spesifikasi. Kondisi serupa terjadi pada media penyimpanan SSD, di mana harga drive NVMe PCIe 5.0 kapasitas 2TB kini mulai merangkak naik akibat keterbatasan stok chip NAND.
Kartu Grafis: Dominasi NVIDIA RTX 50-Series dan DLSS 4.5
Dari sisi teknologi grafis, kartu grafis generasi terbaru berbasis arsitektur Blackwell dari NVIDIA telah menjadi standar baru. Seri RTX 5090 dan RTX 5080 mendominasi pasar kelas atas dengan performa ray-tracing yang jauh lebih efisien dibandingkan generasi sebelumnya.
Salah satu terobosan besar di awal 2026 adalah pengumuman DLSS 4.5. Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan hingga lima frame tambahan melalui AI untuk setiap satu frame yang dirender oleh GPU. Meskipun teknologi ini meningkatkan kehalusan visual secara signifikan, komunitas gamer masih memperdebatkan masalah latensi yang muncul akibat proses generasi frame yang semakin masif tersebut.
Prosesor: Era Zen 6 dan Persiapan Intel Nova Lake
Di sektor prosesor, AMD dan Intel tengah bersiap menghadapi pertarungan besar di paruh kedua tahun 2026. Saat ini, AMD masih mengandalkan lini Ryzen 9000 berbasis Zen 5, dengan rumor kuat bahwa arsitektur Zen 6 yang menggunakan proses fabrikasi 2nm akan segera diperkenalkan. Arsitektur terbaru ini diperkirakan akan meningkatkan jumlah core per CCD dari 8 menjadi 12 core.
Di kubu biru, Intel tengah mematangkan Nova Lake, yang diproyeksikan sebagai desain ulang arsitektur paling signifikan dalam sejarah perusahaan. Fokus utama Intel saat ini adalah integrasi NPU (Neural Processing Unit) yang jauh lebih kuat untuk mendukung aplikasi AI lokal tanpa bergantung pada cloud, sejalan dengan standar PC Copilot+ yang semakin ketat.
Rekomendasi Strategi Pembelian
Melihat kondisi harga komponen eceran yang tidak stabil, para analis menyarankan konsumen untuk mempertimbangkan pembelian PC rakitan siap pakai (pre-built). Integrator sistem besar biasanya memiliki stok lama atau kontrak harga yang lebih stabil dengan produsen, sehingga harga unit keseluruhan seringkali lebih murah dibandingkan merakit sendiri dengan harga komponen retail saat ini.
Bagi pengguna yang ingin melakukan upgrade kecil, disarankan untuk menunda pembelian RAM hingga kuartal ketiga 2026, di mana diprediksi akan ada penyesuaian kapasitas produksi dari produsen chip besar seperti Samsung dan SK Hynix untuk menyeimbangkan kebutuhan pasar AI dan konsumen umum.








