Bandar Lampung (Lampost.co) — Forum Rescue dan Relawan Lampung mendorong agar pembentukan relawan dimasifkan minimal di tiap kecamatan di kabupaten/kota.
Anggota Forum Rescue dan Relawan Lampung, M. Arief, menegaskan pentingnya membentuk pengalaman sejumlah bencana di berbagai daerah, termasuk tsunami Selat Sunda yang pernah melanda Lampung, menunjukkan bahwa daerah ini masih kekurangan relawan terlatih.
Selain itu, tingkat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran warga sekitar dalam membantu proses evakuasi dinilai masih rendah.
“Lampung ini sebenarnya rawan bencana. Tapi dari beberapa kejadian, kita melihat relawan yang benar-benar terlatih masih minim. Masyarakat juga banyak yang belum tersosialisasi tentang bagaimana seharusnya membantu tim evakuasi,” ujar Arief.
Ia mencontohkan fenomena “wisata bencana” yang sempat terjadi saat bencana di Kalianda. Banyak warga datang ke lokasi terdampak hanya untuk berfoto dan melihat-lihat. Sehingga justru menghambat pergerakan tim SAR dan relawan di lapangan.
“Gerak kami sebagai tim SAR sedikit terganggu karena lokasi penuh oleh masyarakat yang datang sekadar menonton. Mereka memang ada yang membawa bantuan. Tapi pada fase evakuasi tiga sampai empat hari pertama, yang kami butuhkan itu relawan dengan kapasitas medis dan kebencanaan. Yang datang justru masyarakat awam,” jelasnya.
Untuk itu, Arief mendorong penguatan konsep Desa Tangguh Bencana. Ia mengusulkan agar setiap kecamatan minimal memiliki 10 orang relawan yang terlatih khusus dalam tanggap darurat bencana.
“Dari 10 orang tiap kecamatan, minimal mereka harus punya ilmu SAR dan rescue. Mereka harus tahu apa yang harus dilakukan ketika ada potensi bencana. Bagaimana membaca situasi dan langkah-langkah penyelamatan,” katanya.
Kelompok Rentan
Lebih lanjut, Arief menekankan pentingnya pendataan kelompok rentan di tingkat lingkungan, seperti lansia, penyandang disabilitas, orang sakit, serta anak-anak. Pendataan ini penting agar proses evakuasi bisa berjalan cepat dan tepat sasaran.
“Minimal antar tetangga atau keluarga itu saling mendata. Mana lansia yang masih bisa jalan, mana yang sakit, disabilitas, dan anak-anak. Kalau sudah terdata, ketika bencana terjadi, evakuasi bisa lebih terarah,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat Lampung ke depan dibekali tidak hanya keterampilan dasar kebencanaan, tetapi juga kepedulian sosial yang kuat. Menurutnya, bencana tidak bisa ditangani hanya oleh pemerintah atau tim SAR semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
“Ketika ada bencana, masyarakat wajib dibekali kepedulian antar sesama. Itu kunci utama agar korban bisa diminimalisir,” pungkas Arief.
Adapun Forum Rescue dan Relawan Lampung wadah besar yang mampu menghimpun berbagai organisasi dan komunitas berjiwa kemanusiaan di Provinsi Lampung.
Wadah tersebut diharapkan menjadi tempat pembinaan relawan agar memiliki pemahaman yang memadai tentang Search and Rescue (SAR) serta penanganan kebencanaan.








