Bandar Lampung (Lampost.co): Sistem pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia gagal menjalankan fungsi dasarnya, yaitu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Praktik pembelajaran di kelas menunjukkan kegagalan tersebut secara nyata karena kehadiran guru bahasa Inggris justru sering tidak siswa harapkan.
Guru Besar FKIP Universitas Lampung, Prof. Bambang Setiyadi, menyampaikan kritik itu saat peringatan Dies Natalis ke-58 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila di Gedung Aula K FKIP Unila, Kamis, 29 Januari 2026. Prof. Bambang menilai persoalan pembelajaran bahasa Inggris tidak bersumber dari kekurangan metode, kurikulum, atau rencana pengembangan sekolah. Ia menyoroti sistem yang mendorong guru sibuk mengajar tanpa kemampuan membangun motivasi belajar siswa.
“Guru sibuk mengajar, sibuk metode, sibuk rencana, tetapi tidak mampu memotivasi siswa untuk belajar. Kalau begitu, untuk apa?” ujarnya.
Ia menyebut kondisi itu sebagai kegagalan sistemik karena proses pembelajaran justru menjauhkan siswa dari keinginan belajar. Dalam banyak kasus, kata dia, siswa bahkan menyambut ketidakhadiran guru bahasa Inggris dengan rasa senang.
“Kedatangan guru tidak siswa harapkan, dan ketidakhadirannya membahagiakan. Ini mengerikan,” tegasnya.
Prof. Bambang menilai sistem pendidikan bahasa Inggris terlalu berorientasi pada aktivitas mengajar, bukan pada proses belajar siswa. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai metode dan pendekatan pembelajaran kehilangan makna karena guru gagal membangun motivasi belajar.
“Belajar bahasa Inggris hanya akan terjadi jika siswa mau belajar. Siswa mau belajar jika guru mampu memotivasi,” katanya.
Ia juga mengkritik sistem pelatihan guru karena sistem itu terlalu menekankan penguasaan metode tanpa menjadikan motivasi siswa sebagai fokus utama. Menurut dia, sistem tersebut melahirkan guru yang terampil secara teknis, tetapi lemah dalam membangun relasi dan dorongan belajar.
“Guru tidak perlu pelatihan macam-macam, kecuali pelatihan untuk memotivasi siswa agar mau belajar,” ujarnya.
Dalam pandangannya, sistem pendidikan bahasa Inggris juga gagal karena terlalu menekankan metode pembelajaran. Ia menegaskan bahwa metode yang baik tetap gagal jika guru tidak mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna, kritis, dan menyenangkan.
“Metode bagus akan menjadi buruk di tangan guru yang tidak bagus. Metode buruk bisa menjadi bagus di tangan guru yang bagus,” katanya.
Pembelajaran Mendalam
Prof. Bambang menambahkan, sistem pendidikan bahasa Inggris yang gagal membangun motivasi turut menghambat terwujudnya pembelajaran mendalam atau deep learning. Padahal, pembelajaran mendalam hanya tercapai ketika siswa mampu mempersiapkan materi secara mandiri, memantau proses belajar, dan melakukan evaluasi diri.
“Jika siswa sudah mandiri, mereka pasti berhasil. Namun, kemandirian itu tidak akan muncul tanpa motivasi,” ujarnya.
Sebagai respons atas kegagalan tersebut, Prof. Bambang mendorong perubahan mendasar dalam sistem pendidikan bahasa Inggris. Ia merekomendasikan penyusunan kurikulum dan buku teks yang berorientasi pada motivasi pembelajar EFL di Indonesia, penguatan pembelajaran berbasis kebutuhan komunikasi global, serta penyelarasan evaluasi dengan fungsi bahasa Inggris sebagai lingua franca, bukan semata standar penutur asli.
“Tanpa perubahan sistemik, kita hanya akan terus sibuk mengajar tanpa pernah benar-benar membuat siswa belajar,” pungkasnya.








