Bandar Lampung (Lampost.co) — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung terus memperkuat komitmen pemberdayaan warga sekitar kawasan konservasi sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Berbagai program telah BKSDA rancang secara terarah dengan menyasar wilayah penyangga kawasan konservasi di Provinsi Lampung.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, Agung Nugroho, menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kawasan konservasi agar tetap lestari.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat secara aktif akan menciptakan rasa memiliki sekaligus tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Baca juga : Peningkatan Pengawasan terhadap Penyelundupan Satwa Mendapat Apresiasi
“BKSDA mendorong masyarakat agar mampu mengelola potensi alam secara berkelanjutan. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang legal dan ramah lingkungan, tekanan terhadap kawasan konservasi dapat berkurang,” ujar Agung Nugroho.
BKSDA Lampung menentukan lokasi pemberdayaan berdasarkan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan, potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan, ketersediaan jasa lingkungan, serta kemauan masyarakat untuk tumbuh dan berdaya.
Dalam pelaksanaannya, BKSDA menerapkan pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
“Program pemberdayaan tersebut bertujuan menekan degradasi hutan dan kawasan konservasi sekaligus membuka peluang sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat,” kata dia.
Secara umum, BKSDA Lampung menjalankan program melalui beberapa tahapan, mulai dari penggalian informasi dan potensi lokal, penguatan kelembagaan masyarakat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga dukungan pengembangan usaha produktif.
“Salah satu fokus utama pemberdayaan menyasar masyarakat sekitar Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau. BKSDA melaksanakan program tersebut di Pulau Sebesi yang berfungsi sebagai daerah penyangga kawasan,” ujar dia.
Sejak 2011, pemerintah menetapkan Pulau Sebesi sebagai Model Desa Konservasi karena posisinya yang strategis serta potensi sumber daya alam produktif yang dapat masyarakat kelola secara berkelanjutan.
Pemberdayaan masyarakat
BKSDA Lampung juga mengembangkan pemberdayaan masyarakat sekitar Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Tulang Bawang. Program berlangsung di Kampung Bujung Dewa, Kabupaten Tulang Bawang Barat, serta Kampung Bumi Aji KNPI, Kabupaten Tulang Bawang.
Tingginya ketergantungan warga terhadap ekosistem lahan basah, potensi keanekaragaman hayati, serta peluang wisata menjadi pertimbangan utama pemilihan lokasi tersebut.
Agung Nugroho menambahkan bahwa sinergi antara konservasi dan pemberdayaan masyarakat harus terus diperkuat agar kawasan tetap lestari dan masyarakat memperoleh manfaat nyata. “
“Konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan dan peran aktif masyarakat menjadi fondasi utama keberhasilan pengelolaan kawasan,” pungkasnya.








