Bandar Lampung (lampost.co)–Provinsi Lampung mulai bersiap menghadapi periode high season Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H. Meski Lampung mencatatkan deflasi di awal tahun, risiko lonjakan permintaan agregat dan gangguan cuaca akan menjadi tantangan utama stabilitas harga.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, menekankan bahwa salah satu risiko sistemik yang patut dicermati adalah potensi inflasi dari bahan makanan bergejolak (volatile food). Hal ini berkaitan erat dengan analisis BMKG mengenai fenomena La Nina lemah yang diprediksi bertahan hingga awal tahun.
“Peningkatan curah hujan dan risiko banjir lokal berpotensi menghambat realisasi panen padi serta distribusi pangan. Kami harus memastikan pasokan tetap aman di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi Sumatera. Hal itu berisiko menghambat arus logistik antarwilayah,” ujar Achmad P. Subarkah dalam keterangannya di Bandar Lampung, awal pekan ini.
Menanggapi ancaman tersebut, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Lampung mengakselerasi Strategi 4K. Pada pilar keterjangkauan harga, BI akan mengintensifkan operasi pasar beras SPHP secara terarah. Selain itu, perluasan Toko Pengendalian Inflasi di seluruh wilayah IHK dan Non-IHK terus dilakukan guna memotong rantai distribusi yang terlalu panjang.
Achmad menjelaskan bahwa penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) juga menjadi prioritas, terutama untuk komoditas yang diprediksi mengalami defisit pasokan saat Ramadan. “Kami memperkuat koordinasi antar-OPD untuk memastikan program swasembada pangan berjalan optimal, termasuk optimalisasi lahan dan distribusi pupuk bersubsidi yang tepat sasaran,” tambahnya.
Kelancaran Arus Logistik
Dari sisi distribusi, Bank Indonesia menaruh perhatian khusus pada konektivitas wilayah. Achmad menyebutkan, kelancaran lalu lintas barang menjadi krusial di tengah risiko gangguan jalan akibat cuaca. Penguatan kapasitas transportasi dengan mendorong penambahan volume penerbangan rute Lampung–Jakarta serta reaktivasi rute strategis Lampung–Bali dan Lampung–Jogja.
“Kepastian ketersediaan moda transportasi sangat penting untuk menjaga stabilitas harga. Kami juga bekerja sama dengan OPD dan Bulog dalam pemberian dukungan Subsidi Ongkos Angkut (SOA). Serta memastikan Mobil Transportasi Operasi Pasar tetap beroperasi secara masif,” jelas Achmad.
Selain faktor pangan, BI juga memitigasi risiko inflasi inti yang dipicu oleh kenaikan harga emas dunia dan penyesuaian UMP yang meningkatkan daya beli masyarakat secara musiman. Dengan sinergi komunikasi yang efektif melalui media digital dan rapat koordinasi rutin TPID, Bank Indonesia optimis inflasi Lampung pada akhir 2026 tetap terjaga.








