Bandar Lampung (Lampost.co) – Pemerintah Provinsi Lampung merespon keadaan ketenagakerjaan Lampung bulan November 2025. Tercatat, ada 211,70 ribu orang menganggur pada periode tersebut. Kedepan pihaknya akan berkolaborasi bersama pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung, Agus Nompitu mengatakan tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari 4,21 persen pada Agustus 2025 menjadi 4,14 persen bulan November 2025, atau mengalami penurunan sebesar 0,07 poin..
Penurunan ini sebagai sinyal bagi kondisi ketenagakerjaan daerah. Sekaligus menjadi dorongan bagi Dinas Tenaga Kerja bersama seluruh pemangku kepentingan untuk terus menekan angka pengangguran.
“Penurunan ini harus menjadi pemicu bagi kami dan seluruh stakeholder untuk terus bekerja lebih keras. Target kami, tingkat pengangguran terbuka bisa ditekan hingga di bawah 4 persen,” katanya di Kantor Gubernur Lampung, Kamis, 5 Februari 2026.
Kemudian penurunan angka pengangguran dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas ekonomi. Serta sejumlah program penyerapan tenaga kerja yang telah berjalan. Seperti pembukaan berbagai unit usaha baru turunan program makan bergizi gratis, penguatan koperasi daerah, hingga pelaksanaan berbagai program pelatihan kerja berbasis vokasi.
Selain itu, kontribusi juga datang dari penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) yang turut membuka peluang kerja bagi masyarakat. Program ini membantu memperluas akses lapangan kerja, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pemerintah daerah optimistis, jika program-program tersebut berjalan efektif sepanjang 2026. Maka penyerapan tenaga kerja dari berbagai sektor akan semakin meningkat.
Peningkatan Kompetensi Pekerja
Saat ini, fokus utama kebijakan ketenagakerjaan adalah peningkatan kompetensi tenaga kerja. Berbagai pelatihan vokasi terus digencarkan guna membekali pencari kerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.
Tak hanya itu, pemerintah juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari perusahaan penempatan pekerja migran hingga Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
“LPK harus disinergikan dengan dunia usaha. Karena itu, tahun ini kami merencanakan pembentukan forum komunikasi antara lembaga pelatihan dan industri daerah,” jelasnya.
Perkuat Link and Match
Forum komunikasi tersebut nantinya akan melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, serta perusahaan penempatan tenaga kerja. Tujuannya adalah memperkuat koordinasi dan menciptakan link and match antara pelatihan yang diberikan dengan kebutuhan nyata di dunia kerja.
“Dengan sinergi tersebut, diharapkan lulusan pelatihan memiliki kompetensi yang relevan dan lebih mudah terserap ke pasar kerja,” katanya.
Penurunan TPT menjadi 4,14 persen ini pun diharapkan menjadi awal dari tren positif ketenagakerjaan. Sekaligus momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor demi menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas.
211,70 Ribu Orang Menganggur
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menyampaikan keadaan ketenagakerjaan Lampung bulan November 2025. Tercatat, ada 211,70 ribu orang menganggur pada periode tersebut.
Hal tersebut tersampaikan dalam rilis Berita Resmi Statistik, Kamis, 5 Februari 2026. Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution mengatakan tingkat pengangguran turun ke level 4,14 persen di tengah penguatan sektor informal.
Jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Lampung pada November 2025 tercatat sebanyak 7,22 juta orang, meningkat 24,17 ribu orang (0,34%) dibandingkan Agustus 2025. Sejalan dengan kenaikan tersebut, daya serap pasar kerja juga menguat dengan adanya tambahan 45,01 ribu orang yang bekerja. Dengan demikian, total penduduk yang bekerja saat ini mencapai 4,90 juta orang.
“Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Lampung pada November 2025 berada pada level 4,14 persen, atau sebanyak 211,70 ribu orang,” katanya.
Angka ini menunjukkan keberhasilan dalam menekan jumlah pengangguran sebanyak 1,47 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya. Namun, terdapat catatan mengenai disparitas wilayah dan gender.
TPT di wilayah perkotaan masih jauh lebih tinggi sebesar 6,03 persen, dibandingkan wilayah pedesaan yang hanya 2,97 persen. Dan angka pengangguran perempuan tercatat sebesar 4,86 persen, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang sebesar 3,70 persen.
BPS Provinsi Lampung mencatat, struktur lapangan kerja di Lampung masih didominasi oleh kegiatan di sektor informal. Proporsi pekerja informal meningkat menjadi 65,81 persen, sementara pekerja formal turun menjadi 34,19 persen.
Kenaikan sektor informal ini didorong oleh lonjakan status pekerjaan “Pekerja Bebas di Pertanian” yang bertambah signifikan sebanyak 56,84 ribu orang. Lapangan usaha Pertanian, Perdagangan, Industri Pengolahan, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum menjadi motor utama penyerapan tenaga kerja. Sektor Konstruksi serta Pengadaan Listrik dan Gas juga turut memberikan kontribusi positif.
Dari sisi kualitas pendidikan, terdapat tren peningkatan partisipasi lulusan Perguruan Tinggi (Diploma ke atas) yang kini mencapai 11,24 persen (550,73 ribu orang). Meski demikian, mayoritas penduduk bekerja masih didominasi oleh lulusan SD ke bawah sebesar 32,98 persen.








