Liwa (lampost.co)–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Barat resmi mengintegrasikan alat tradisional Kekuhan ke dalam sistem peringatan dini daerah. Langkah ini memperkuat status Lampung Barat sebagai “Kabupaten Tangguh Bencana” yang mengandalkan kekuatan kearifan lokal dalam menghadapi situasi darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Lampung Barat, Padang Priyo Utomo, menjelaskan bahwa Kekuhan memiliki pola komunikasi yang sangat spesifik. Masyarakat wajib memahami perbedaan irama ketukan agar pesan bahaya tersampaikan secara akurat dan respons warga menjadi lebih efektif.
“Kami menetapkan tujuh pola ketukan sebagai standar komunikasi. Pola ini mencakup berbagai kondisi, mulai dari informasi duka hingga peringatan bencana alam,” ujar Padang Priyo Utomo, Jumat (20/2/2026).
7 Pola Ketukan Kekuhan
BPBD merinci kode ketukan sebagai berikut agar masyarakat dapat merespons sesuai jenis kejadian:
| Pola Ketukan | Makna / Jenis Kejadian |
| 3 Ketukan Pendek (3x) | Kabar duka (ada warga yang meninggal dunia). |
| 2 Ketukan Pendek (3x) | Adanya aksi pencurian atau kemalingan. |
| 3 Ketukan Pendek (3x) | Terjadi musibah kebakaran rumah. |
| 4 Ketukan Pendek (3x) | Terjadi bencana alam (banjir, tanah longsor, dll). |
| 5 Ketukan Pendek (3x) | Adanya aksi pencurian hewan ternak. |
| 1 Pendek + 10 Panjang + 1 Pendek | Panggilan untuk kerja bakti atau gotong royong. |
| Ketukan Panjang Berkali-kali | Tanda Bahaya Utama/Darurat (Sinyal evakuasi segera). |
Kemandirian Komunikasi
Padang menegaskan bahwa penggunaan Kekuhan merupakan solusi cerdas di wilayah yang memiliki tantangan geografis berat. Alat ini tidak bergantung pada sinyal telekomunikasi maupun arus listrik, sehingga sangat andal saat terjadi bencana besar yang melumpuhkan infrastruktur modern.
“Ditetapkannya Kekuhan adalah komitmen kami untuk membangun ketangguhan bencana dari akar rumput. Setiap ketukan membawa pesan yang menyelamatkan nyawa,” tambahnya.
BPBD mengimbau masyarakat untuk kembali memasang Kekuhan di setiap pos keamanan lingkungan (Poskamling) dan membiasakan diri dengan pola-pola ketukan tersebut demi mempercepat proses mitigasi mandiri. (ANT)








