Tulang Bawang (Lampost.co) — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mendorong pemerintah memberikan kepastian status dan kesejahteraan bagi guru honorer.
Hal tersebut termasuk meninjau kembali kebijakan PPPK paruh waktu yang tidak memiliki dasar dalam peraturan perundang-undangan.
Sekretaris Jenderal PB PGRI Dudung Abdul Qodir menyampaikan hal tersebut saat membuka kegiatan Tulang Bawang Great Teacher 2026 Kabupaten Tulang Bawang, Kamis, 12 Maret 2026.
Menurut Dudung, guru merupakan faktor kunci pembangunan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah harus memastikan keberpihakan nyata terhadap profesi guru.
“Pemerintah harus dekat dengan guru, sebab guru menjadi kunci pembangunan kualitas manusia,” kata Dudung.
Ia menegaskan, PGRI saat ini mendorong pemerintah memberikan kepastian kesejahteraan bagi guru honorer yang selama ini masih menghadapi ketidakpastian status kerja.
Selain itu, organisasi profesi guru tersebut juga meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan pengangkatan PPPK paruh waktu.
“Berdasarkan undang-undang, tidak ada istilah PPPK paruh waktu. Yang ada hanya PPPK dan ASN,” ujarnya.
Karena itu, PGRI mendorong pemerintah mengangkat guru yang saat ini berstatus PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh.
Pada sisi lain, PGRI juga tengah menginisiasi pembentukan Undang-Undang Perlindungan Guru. Regulasi tersebut penting untuk memberikan jaminan hukum terhadap profesi guru.
Menurut Dudung, perlindungan hukum diperlukan agar guru tidak mudah mengalami kriminalisasi saat menjalankan tugas mendidik sekolah.
“Undang-undang perlindungan guru penting agar guru mendapat jaminan dan perlindungan dari berbagai bentuk kriminalisasi,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PGRI Tulang Bawang M Ami Iswandi Balau mengatakan kegiatan Great Teacher 2026 merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah bersama PGRI untuk meningkatkan kompetensi guru.
Peningkatan Kualitas
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum maupun teknologi, tetapi juga pada kapasitas guru sebagai penggerak utama proses pembelajaran.
“Guru merupakan kunci utama kemajuan pendidikan. Sekuat apa pun kurikulum dan secanggih apa pun teknologi, semuanya tetap bergantung pada guru sebagai penggerak ruang kelas,” ujarnya.
Ia menjelaskan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum seminar, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan inspirasi bagi para guru.
“Kegiatan ini bukan sekadar seminar biasa, tetapi ruang inspirasi, berbagi pengalaman, dan penguatan energi positif bagi para guru,” kata Ami.
Ami juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang yang memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan guru.
Menurutnya, pemerintah daerah telah mengangkat lebih dari 300 guru PPPK paruh waktu serta menyiapkan anggaran untuk mendukung sertifikasi guru agama.








