Bandar Lampung (Lampost.co) — Temuan terbaru dari studi internasional mengungkap fakta yang mengkhawatirkan. Pencairan es di Antartika Barat ternyata tidak hanya memicu kenaikan permukaan laut, tetapi juga melemahkan kemampuan laut menyerap karbon dioksida (CO2).
Dampaknya tidak sederhana—ini bisa mempercepat laju perubahan iklim secara global.
Samudra Selatan Mulai Kehilangan Perannya
Selama ini, Samudra Selatan dikenal sebagai “penyerap karbon raksasa” Bumi. Laut ini telah membantu menahan pemanasan global dengan menyerap CO2 dari atmosfer selama puluhan ribu tahun.
Namun, penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications menunjukkan kondisi mulai berubah.
Berdasarkan analisis inti sedimen laut selama ratusan ribu tahun, para peneliti menemukan bahwa kemampuan laut menyerap karbon justru menurun saat es mencair lebih cepat.
Bukan Sekadar Es Cair, Tapi Kandungannya Bermasalah
Masalah utama bukan hanya jumlah air dari es yang mencair, tetapi juga kualitasnya.
Lelehan es dari Antartika Barat membawa sedimen yang miskin zat besi. Padahal, zat besi merupakan nutrisi penting bagi fitoplankton—organisme mikroskopis yang berperan besar dalam menyerap CO2 melalui fotosintesis.
Ketika zat besi berkurang:
- pertumbuhan fitoplankton melambat
- penyerapan karbon ikut menurun
Artinya, anggapan lama bahwa pencairan es bisa “memupuk” laut agar menyerap lebih banyak karbon tidak sepenuhnya benar.
Struktur Laut Berubah, Sirkulasi Terganggu
Selain faktor nutrisi, perubahan juga terjadi pada struktur fisik laut.
Air tawar dari es mencair membuat lapisan permukaan laut menjadi lebih stabil dan sulit bercampur dengan lapisan di bawahnya. Kondisi ini disebut stratifikasi.
Akibatnya:
- sirkulasi laut melemah
- pertukaran karbon antara laut dan atmosfer terhambat
Karbon yang seharusnya diserap laut justru lebih banyak tertahan di udara.
Muncul Efek “Lingkaran Setan” Iklim
Penelitian ini mengungkap adanya efek berantai yang berbahaya.
Pemanasan global → es mencair lebih cepat → penyerapan karbon melemah → CO2 di atmosfer meningkat → pemanasan makin cepat.
Siklus ini dikenal sebagai feedback loop, yang bisa mempercepat krisis iklim di luar kendali.
Prediksi Iklim Bisa Meleset
Temuan ini juga menjadi peringatan bagi para ilmuwan dan pembuat kebijakan.
Banyak model iklim saat ini masih mengasumsikan laut akan terus menyerap karbon dalam jumlah stabil. Jika kemampuan ini ternyata menurun, maka:
- kadar CO2 bisa naik lebih cepat
- target pembatasan suhu global makin sulit dicapai
Penutup
Antartika bukan hanya wilayah yang terdampak perubahan iklim, tetapi juga faktor yang bisa mempercepatnya.
Saat es terus mencair, dampaknya tidak berhenti di kutub. Ia merambat ke seluruh sistem iklim Bumi—diam-diam, namun pasti.
Dan dari sinilah, krisis iklim bisa bergerak lebih cepat dari yang kita perkirakan.








