Bandar Lampung (lampost.co)–Tren kenaikan harga bahan baku plastik belakangan ini mulai memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas sektor perdagangan mikro. Di pasar tradisional, para pedagang eceran mengeluhkan penurunan omzet yang tajam menyusul lesunya aktivitas beli masyarakat dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan pantauan pada Senin, 30 Maret 2026, deretan toko plastik di Pasar Tempel Way Dadi tampak sepi dari hiruk-pikuk pembeli. Para pelanggan setia, khususnya pelaku UMKM kuliner yang biasanya melakukan pengadaan stok dalam volume besar, kini mulai membatasi pembelian. Atau mencari alternatif kemasan lain yang lebih ekonomis.
Lonjakan harga ini karena pembengkakan biaya produksi serta kendala logistik global. Secara rata-rata, harga kantong plastik berbagai ukuran mengalami kenaikan berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 dari harga normal, sehingga konsumen menjadi jauh lebih selektif.
“Ini merupakan situasi terberat dalam setahun terakhir. Kenaikan harga yang terus-menerus membuat pelanggan mengurangi belanjaan mereka. Omzet saya anjlok hampir 40 persen,” keluh Aris (45), pedagang di pasar tersebut.
Pelaku Usaha Makanan
Kondisi ini menciptakan efek domino yang merugikan rantai usaha hilir. Para pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada kemasan plastik harus memutar otak agar margin keuntungan mereka tidak tergerus oleh membengkaknya biaya operasional.
Santi (36), seorang pedagang makanan, mengaku kesulitan menentukan harga jual produknya akibat ketidakpastian biaya kemasan.
“Dahulu harga plastik tidak semahal sekarang. Jika bahan bakunya naik setinggi ini, kami bingung menentukan harga jual ke pembeli. Keuntungan jualan jadi terpotong sangat banyak,” ungkapnya. (Magang/Fauzan)








