Jakarta (Lampost.co)–Kemenangan telak 4-0 Tim Nasional Indonesia atas Saint Kitts dan Nevis di ajang FIFA Series 2026 ternyata menyisakan residu kritik bagi ujung tombak Garuda, Ramadhan Sananta. Meski tim menang besar, penyerang berusia 23 tahun tersebut mendapat hujan komentar negatif di media sosial karena gagal mencatatkan namanya di papan skor selama 72 menit berada di lapangan.
Melihat tekanan pada anak asuhnya, pelatih kepala Timnas Indonesia, John Herdman, memberikan pembelaan yang sangat tegas. Pelatih asal Inggris itu meminta publik sepak bola Tanah Air untuk melihat kontribusi seorang striker tidak hanya dari sekadar angka di papan skor, tapi dari fungsi taktis di dalam permainan.
Analogi Olivier Giroud di Piala Dunia 2018
Dalam sesi latihan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Minggu (29/3/2026) sore, Herdman membandingkan peran Sananta dengan striker legendaris Prancis, Olivier Giroud. Ia merujuk pada performa Giroud di Piala Dunia 2018, di mana sang striker tidak mencetak satu gol pun namun menjadi kunci sukses Les Bleus merengkuh gelar juara dunia.
Baca juga: John Herdman Sebut Atmosfer SUGBK Lebih Spesial Dibanding Old Trafford dan Azteca
“Beberapa komentar di media sosial tidak pantas. Kita harus punya standar yang lebih baik sebagai bangsa. Perannya adalah membuka ruang, menjadi lini pertama dalam pressing,” ujar Herdman dengan nada serius. “Jika Anda lihat Olivier Giroud, dia pernah tidak mencetak gol di Piala Dunia (2018), tapi tidak dikritik karena kontribusinya untuk tim. Sananta adalah pemain seperti itu. Dia bermain untuk tim.”
Membuka Ruang bagi Ole Romeny dan Beckham Putra
Lebih lanjut, Herdman memuji kecerdasan pergerakan tanpa bola dari penyerang kelahiran Daik, Kepulauan Riau tersebut. Menurut mantan pelatih Timnas Kanada ini, kehadiran Sananta di lini depan sangat krusial dalam menarik bek lawan, yang pada akhirnya memberikan keleluasaan bagi pemain kreatif lainnya seperti Beckham Putra, Ragnar Oratmangoen, hingga Ole Romeny.
“Pergerakannya membuka ruang bagi Ole Romeny, Ragnar, Beckham, dan lainnya. Jadi saya harap suporter bisa lebih tenang dan menghargai kerja kerasnya. Dia sangat bangga menjadi orang Indonesia dan sulit melihat kritik berlebihan terhadap pemain seperti dia. Kita harus menjadi lebih baik sebagai bangsa,” ujar pelatih berusia 50 tahun tersebut.
Statistik dan Kepercayaan Tim
Meski mendapat kritik, catatan Sananta sebenarnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Musim ini, ia tampil impresif bersama klub barunya di Liga Malaysia, DPMM FC, dengan torehan empat gol dan dua asis. Di level internasional, penyerang bertinggi 182 cm ini telah mengoleksi 17 caps bersama tim senior Indonesia dengan sumbangan enam gol.
Bagi John Herdman, statistik gol hanyalah sebagian kecil dari kebutuhan tim. Ia menegaskan dalam sistem permainan yang ia usung, kehadiran Sananta adalah sebuah kebutuhan absolut. “Kami membutuhkan Ramadhan Sananta,” ujarnya.
Dengan dukungan penuh sang pelatih, harapannya Ramadhan Sananta dapat tampil lebih lepas saat Indonesia menghadapi laga berat melawan Bulgaria di Stadion Utama Gelora Bung Karno, nanti malam.








