Bandar Lampung (Lampost.co)– Tekanan harga di Provinsi Lampung selama Ramadan 2026 terpantau stabil. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat inflasi bulanan (month-to-month) hanya sebesar 0,19 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Maret tahun lalu yang mencapai 1,96 persen.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M Sabiel A P, menegaskan capaian ini menunjukkan pengendalian harga berjalan efektif meski terjadi peningkatan permintaan selama Ramadan.
Baca juga: Bank Indonesia Mitigasi Risiko Tekanan Inflasi Lampung
“Inflasi tetap terkendali karena pasokan relatif terjaga dan distribusi berjalan cukup baik, terutama pada komoditas pangan utama,” ujarnya.
Secara kelompok pengeluaran, Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,10 persen. Komoditas daging ayam ras tercatat sebagai pemicu terbesar, diikuti bensin, telur ayam ras, dan beras.
Namun, tekanan inflasi berhasil diredam oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga. Cabai merah mencatat deflasi terdalam dengan andil minus 0,09 persen, disusul tomat dan bawang putih.
“Penurunan harga komoditas hortikultura seperti cabai cukup signifikan dalam menahan laju inflasi,” kata Sabiel.
Inflasi Tahunan Melandai
Secara tahunan (year-on-year), inflasi Lampung juga melandai ke level 1,16 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,58 persen. Tekanan inflasi terbesar berasal dari kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil 1,03 persen, terutama dipicu tarif listrik.
Di sisi lain, kelompok pendidikan menjadi penahan inflasi dengan deflasi terdalam hingga 17,97 persen.
BPS juga mencatat variasi inflasi antarwilayah. Kota Metro mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 1,62 persen, sementara terendah di Kabupaten Lampung Timur sebesar 1,05 persen. Untuk inflasi bulanan, Kabupaten Mesuji mencatat kenaikan tertinggi 0,80 persen, sedangkan Lampung Timur kembali menjadi yang terendah dengan 0,04 persen.
Sabiel menilai stabilnya inflasi di tengah momentum Ramadan menjadi indikator positif bagi perekonomian daerah.
“Ini menunjukkan daya tahan ekonomi Lampung cukup baik, terutama dalam menjaga keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan barang,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Lampung dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan aktivitas ekonomi tetap tumbuh tanpa tekanan harga yang berlebihan.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News








