Jakarta (Lampost.co)– Di tengah perlambatan transaksi aset kripto awal 2026, pelaku industri mulai menggenjot inovasi untuk menjaga minat pasar. Salah satunya dilakukan Tokocrypto dengan menyiapkan produk baru dan memperluas akses transaksi.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan nilai transaksi kripto pada Januari 2026 mencapai Rp29,24 triliun, turun 10,53 persen dibandingkan Desember 2025. Sementara transaksi derivatif aset keuangan digital juga turun 6,88 persen menjadi Rp8,01 triliun.
Baca juga: Pajak Kripto Tembus Rp1,96 Triliun, Sinyal Industri Digital RI Kian Matang
Menanggapi kondisi tersebut, Chief Financial Officer Tokocrypto, Sefcho Rizal, menilai perlambatan ini bersifat sementara.
“Pasar memang sedang mengalami penyesuaian. Namun, kepercayaan pengguna masih kuat dan menjadi modal utama untuk pemulihan,” ujarnya.
Sebagai respons, Tokocrypto menyiapkan peluncuran produk derivatif (futures) guna menjaga aktivitas perdagangan tetap dinamis. Harapannya produk ini dapat menjadi alternatif bagi investor di tengah fluktuasi pasar.
Selain itu, perusahaan juga memperluas akses transaksi dengan mengintegrasikan layanan pembayaran ke perbankan nasional, termasuk bank BUMN seperti BRI dan Mandiri.
“Langkah ini kami lakukan agar masyarakat semakin mudah bertransaksi dan partisipasi di ekosistem kripto terus meningkat,” kata Sefcho.
Tak hanya fokus pada bisnis, Tokocrypto juga mendorong edukasi literasi perpajakan bagi pengguna. Hal ini penting agar pertumbuhan industri berjalan seiring dengan peningkatan kepatuhan.
Saat ini, Tokocrypto telah melayani lebih dari 4,8 juta pengguna dengan pertumbuhan pengguna aktif mencapai 75 persen secara tahunan. Sepanjang 2025, nilai transaksi platform ini menembus Rp160 triliun dengan pangsa pasar lebih dari 40 persen.
Dengan kombinasi inovasi produk, ekspansi akses, dan edukasi pengguna, pelaku industri optimistis pasar kripto nasional akan kembali tumbuh dalam waktu dekat.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News








