Bandar Lampung (Lampost.co) — Krisis global yang tengah melanda dunia saat ini tidak membawa pengaruh bagi sektor properti di Indonesia, terutama di Lampung. Hal ini terlihat dari minat masyarakat terhadap hunian masih cukup tinggi.
Namun tidak bisa dipungkiri perang antara Iran-Amerika berdampak pada melambungnya harga material pabrikan. Seperti keramik, besi, rangka baja, maupun bahan material lainnya.
“Akan tetapi untuk skala industri homemade, contohnya genteng dan bata tidak ada pengaruhnya. Justru malah memberikan rezeki bagi mereka karena banyak developer yang menggunakan hable, kembali memakai bata merah,” kata pemilik developer PT Citra Manunggal Sejahtera, Hairul Effendi.
Hairul mengaku, kenaikan harga material tersebut juga tidak mempengaruhi harga jual properti di pasaran. “Kalau harga properti tidak berpengaruh banyak, hanya saja mempengaruhi sedikit margin untuk developer. Tetapi kuantitasnya yang meningkat,” ungkap Hairul yang juga Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPD REI Lampung.
Ia juga mengatakan, di tengah krisis ekonomi global saat ini, minat masyarakat terhadap rumah subsidi, khususnya di Lampung juga masih sangat tinggi.
“Malah developer kesulitan dalam pengadaan bahan baku lahan karena demand-nya yang cukup tinggi. Regulasi yang menghambat adalah aturan tentang LSD (lahan sawah yang dilindungi), LP2B (lahan pertanian pangan berkelanjutan),” ujarnya.
Untuk mengatasi hal itu, langkah yang mereka lakukan dengan mencari lokasi di pinggiran Kota Bandar Lampung. Contohnya wilayah Sabahbalau dan sekitarnya, Pesawaran, dan perbatasan Kota Metro dan Lampung Selatan.
Menunjukkan Ketahanan
Terpisah, Ketua DPD REI Lampung, Yuliana Gunawan, juga mengatakan di tengah dinamika ekonomi global, sektor properti di Lampung tetap menunjukkan ketahanan. Kenaikan suku bunga global, fluktuasi nilai tukar, serta ketegangan geopolitik memang memberikan tekanan. Terutama terhadap biaya material bangunan dan biaya pendanaan.
Namun demikian, dampak terhadap permintaan masyarakat di Lampung relatif terbatas. Kebutuhan hunian tetap tinggi dan didominasi oleh kebutuhan riil. Oleh karena itu, faktor global tidak menjadi penentu utama perlambatan pasar.
Sebaliknya, tantangan terbesar justru berasal dari dalam negeri, seperti kebijakan SLIK, kendala RDTR, serta penetapan lahan sawah dilindungi (LSD) yang secara langsung memengaruhi ketersediaan lahan dan percepatan pengembangan proyek.
“Dampak global ada, tetapi bukan faktor utama. Justru kebijakan domestik seperti SLIK, RDTR, dan lahan sawah dilindungi yang paling menghambat percepatan sektor ini,” jelasnya.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, DPD REI Lampung telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja sektor properti tetap berjalan optimal di 2026.
Langkah utamanya antara lain memperkuat kolaborasi dengan perbankan guna mempercepat proses pembiayaan. Mendorong percepatan perizinan bersama pemerintah daerah. Serta mengoptimalkan pemasaran di kawasan Segitiga Emas rumah subsidi yang memiliki tingkat permintaan paling stabil.
Selain itu, berbagai kegiatan promosi seperti pameran properti dan kampanye digital. Serta momentum kegiatan nasional REI di Lampung juga akan bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan menarik minat konsumen.
Ia menegaskan bahwa kunci utama pertumbuhan sektor ini terletak pada keberhasilan mengatasi hambatan struktural yang ada.
“Kunci 2026 jelas: percepatan perizinan dan kemudahan pembiayaan. Tanpa itu, pasar akan berjalan, tapi tidak akan bisa melompat,” tandasnya.








