Bandar Lampung (Lampost.co): Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela memperingatkan seluruh pihak bahwa fenomena El Nino “Godzilla” membawa ancaman serius, tidak hanya terhadap sektor pertanian, tetapi juga terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Pemprov Lampung memperluas fokus mitigasi dengan mengantisipasi krisis air bersih dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah tetap menjaga tren positif produksi padi yang meningkat dari 2,73 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada 2024 menjadi 3,25 juta ton GKG pada 2025.
Jihan menegaskan pemerintah harus mempertahankan capaian tersebut di tengah tekanan cuaca ekstrem. Ia mengingatkan seluruh pihak untuk tidak hanya fokus pada produksi pangan, tetapi juga memperhitungkan dampak kesehatan dan lingkungan.
“Kita harus menjaga capaian ini karena Lampung menjadi pilar pangan nasional. Namun, kita juga harus mengantisipasi risiko kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut, potensi krisis air bersih, serta peningkatan risiko karhutla akibat kekeringan,” ujar Jihan, Jumat, 10 April 2026.
Pemprov Lampung langsung memperkuat sektor sumber daya air untuk menopang ketahanan pertanian. Pemerintah mengoptimalkan penggunaan pompa air, memanfaatkan sumur bor dan embung, serta mempercepat perbaikan jaringan irigasi di wilayah rawan kekeringan.
Jihan juga mendorong petani menerapkan pola tanam adaptif dan menggunakan benih tahan kekeringan. Ia menekankan percepatan masa tanam sebelum puncak kemarau sebagai langkah krusial untuk menekan risiko gagal panen.
“Petani harus menyesuaikan pola tanam dan segera memulai masa tanam sebelum kemarau ekstrem datang. Langkah ini menjadi kunci menjaga produksi tetap stabil,” tegasnya.
Perketat Patroli Karhutla
Pemprov Lampung meningkatkan pemantauan titik panas (hotspot) dan mengintensifkan patroli rutin di wilayah rawan karhutla. Pemerintah mengerahkan aparat dan tim terkait untuk mencegah kebakaran meluas sejak dini.
Jihan menyatakan pemerintah siap menggunakan teknologi jika kondisi kekeringan memasuki fase kritis. Ia membuka opsi penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk menekan dampak kekeringan ekstrem.
“Dalam kondisi tertentu, kita akan menggunakan rekayasa cuaca untuk mengurangi dampak kekeringan dan mencegah karhutla meluas,” ujarnya.
Di akhir arahannya, Jihan mendesak seluruh Organisasi Perangkat Daerah menetapkan status siaga di wilayah rawan. Ia juga menginstruksikan integrasi sistem peringatan dini berbasis data hingga ke tingkat paling bawah agar respons berjalan cepat dan terukur.








