• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • E-Paper
Sabtu, 21/03/2026 12:36
Jendela Informasi Lampung
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
Jendela Informasi Lampung
Home Lampung

Lada Lampung Mendunia

Kontribusi Lampung dalam sejarah perdagangan dan jalur rempah Nusantara, khususnya lada, selama lebih kurang dua abad.

Triyadi IsworobyTriyadi Isworo
10/07/24 - 05:14
in Lampung, Opini
A A
Dosen Sejarah UIN Lampung, Abd Rahman Hamid saat mengikuti Program Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) Tahun 2024. (Foto: Lampost.co/Triyadi Isworo)

Dosen Sejarah UIN Lampung, Abd Rahman Hamid saat mengikuti Program Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) Tahun 2024. (Foto: Lampost.co/Triyadi Isworo)

ADVERTISEMENT

Opini

Abd. Rahman Hamid

Dosen Sejarah UIN Lampung; Peserta MBJR 2024 

.

Bandar Lampung (Lampost.co) — Setelah mengarungi Jalur Rempah Nusantara rute Jakarta-Sabang (singgah di Malaka), kapal latih TNI AL KRI Dewaruci akhirnya lego jangkar pada wilayah Teluk Lampung jelang fajar, Rabu, 10 Juli 2024. Mengapa singgah di Lampung? 

.

Hal ini tak lepas dari kontribusi Lampung dalam sejarah perdagangan dan jalur rempah Nusantara, khususnya lada, selama lebih kurang dua abad. Salah satu sumber tua mengenai lada adalah Suma Oriental Time Pires yang ditulis di Malaka antara tahun 1512-1515. Ia menyebutkan bahwa ada dua daerah yang menghasilkan lada di daerah ini, yakni Cacampom (Sekampung) dan Tulimbavam (Tulangbawang). Lada dibawa oleh penduduknya menggunakan perahu lanchara untuk dijual ke Banten dan Jawa (baca: Sunda Kelapa). 

.

Lada (piper nigrum) merupakan jenis tanaman rambat yang dibawa oleh pelaut dan pedagang India ke Nusantara lewat Samudera Pasai dan Pidie sekitar abad ke-13, kemudian diperluas ke daerah pedalaman Sumatera (Minangkabau), Tanah Semenanjung Malaya, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan antara abad ke-15 hingga abad ke-17.  

.

Baca Juga : https://lampost.co/humaniora/muhibah-budaya-jalur-rempah-kri-dewaruci-akan-singgah-di-lampung-ini-agendanya/

.

Kemudian karena iklim Lampung yang panas dan lembab sangat cocok untuk membudidayakan lada. Daerah Abung, berdekatan dengan Sungkai dan Besai, merupakan area produksi lada terbaik. Begitu pula daerah perbukitan di bagian baratnya, tulis Broersma (1916) dalam De Lampoengsche Districten. 

.

Hingga kini, belum ada jenis komoditi niaga yang punya daya ungkit luar biasa terhadap sejarah Lampung melampaui lada. Lada lah yang membuat Lampung mendunia. Jejaknya pun dapat tertemukan dalam berbagai warisan kesenian, budaya, dan politik Lampung. 

.

Kemudian lada terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat Lampung, sehingga lahirlah lagu Tanoh Lado karya Fath Syahbudin, sebagai salah satu lagu khas Provinsi Lampung.  Lagu ini sesungguhnya mencerminkan kejayaan lada masa silam. Pada masa kejayaan lada, pengrajin kain Tapis menggunakan benang emas dari Cina dan India. Tapis kini pun menjadi ikon Lampung. Selain itu, kita juga menemukan lada dalam logo pemerintah daerah Provinsi Lampung, yang bersanding dengan padi.  

.

Jadi, betapa penting lada sejarah masyarakat Lampung. Bahkan pada awal abad ke-20, masyarakat Sukadana pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah dengan membawa lada, kata seorang warga kepada penulis saat riset calon Pahlawan Nasional KH Ahmad Hanafiah pada tahun 2021.  

.  

Perebutan Lada Lampung 

.

Lada Lampung merupakan lada terbaik dunia, setelah lada dari Kerala India Selatan, tulis Stockdale (2014) dalam bukunya, The Island of Java. Buku ini pertama kali terbit tahun 1811. Kalau merujuk catatan Tome Pires, lada Lampung mulai terbudidayakan sekitar paruh kedua abad ke-15.  

.

Sejak abad ke-16, tidak ada kekuatan ekonomi dan politik dominan lokal yang mampu mengendalikan produksi dan perdagangan lada. Tak heran bila lada Lampung menjadi rebutan antara kekuatan politik sekitarnya. Terutama Banten yang pada awal abad ke-16 telah tumbuh menjadi pelabuhan niaga lada, serta Palembang. 

.

Selanjutnya, ketika Banten menjadi kota pelabuhan dunia pada abad ke-17, sumber utama lada yang terekspor ke luar negeri berasal dari Lampung, yakni sekitar 80-90 persen. Untuk memastikan ketersediaan lada bagi pelabuhannya. Sultan Banten mewajibkan setiap pria Lampung yang sudah menikah menanam 1.000 pohon lada dan yang belum menikah sebanyak 500 pohon. 

.

Baca Juga : https://lampost.co/nasional/kolaborasi-wujudkan-jalur-rempah-jadi-warisan-budaya-dunia/

.

Kemudian Sultan Banten menempatkan empat pejabatnya, yang tersebut jinjem, Menggala (Tulang Bawang), Semangka, Seputih, dan Teluk Betung. Tugas mereka adalah memastikan bahwa penduduk menanam, merawat, dan menjual lada kepada Banten dengan harga yang telah ditentukan dan murah (Canne, 1862; TNI, 1862). 

.

Sultan Banten memerintahkan para pemimpin Lampung untuk mengontrol rakyatnya supaya giat menanam lada. Jika perintah tersebut tidak terlaksanakan, maka mereka dipanggil ke istana Banten untuk mempertanggungjawabkannya. (Talens 2004). 

.

Lalu, Sultan Banten memberikan gelar kehormatan dan piagam kepada para pemimpin Lampung yang membawa banyak lada ke Banten. Bahkan, penyelesaian masalah lokal pun tak lepas dari seberapa banyak lada yang dapat diberikan kepada Banten.  

.

Kemudian, Sultan Banten juga mengutus para ulama dari Banten untuk menyiarkan agama Islam pada wilayah Lampung. Sekaligus untuk memberikan penguatan kepada penduduk lokal untuk mensukseskan misi niaga lada Banten di Lampung. 

.

Palembang

.

Selain Banten, Palembang juga berupaya mendapatkan lada Lampung. Dengan bantuan Palembang, penduduk sepanjang Sungai Tulang Bawang menggali kanal untuk menyatukan Way Umpu dan Tulang Bawang agar memudahkan pedagang lada menghindari pos dagang Banten. 

.

Selanjutnya, Sultan Palembang memberikan sejumlah gelar (Raja Alam, Aria, dan Pangeran) kepada para pemimpin Pakuan, Pagar Dewa, dan Menggala. Meskipun Tulang Bawang jatuh ke tangan Banten (1738). Kemudian membatasi Palembang untuk mendapatkan lada, namun penduduknya lebih senang menjual lada kepada Palembang. Karena membelinya dengan harga yang lebih mahal dari Banten (Andaya 2016). 

.

Kendatipun demikian, pengaruh Banten begitu kuat terhadap penduduk Lampung, sehingga lada Lampung lebih banyak terbawa ke Banten. Itulah sebabnya, VOC Belanda yang juga ingin mendapatkan lada Lampung memanfaatkan konflik internal Banten. Belanda mendukung usaha pangeran Banten, Sultan Haji, merebut tahta dari ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Pada saat itu Inggris, Portugis, dan Denmark membantunya.

.

Kemudian, setelah Sultan Haji berhasil merebut takhta Banten, perdagangan lada Lampung berada pada bawah pengaruh Belanda. Selanjutnya Belanda membangun benteng pada Menggala dan Semangka oleh pimpinan dua residen untuk mengontrol jaringan perdagangan lada. Walhasil, Bumi Ruwa Jurai menjadi sumber utama lada bagi VOC di Batavia. 

.

Sementara itu, EIC-Inggris yang telah terusir dari kota Banten oleh Sutan Haji dan VOC kemudian membangun lojinya di Bengkulu tahun 1685. Mereka tetap berusaha untuk mendapatkan lada Lampung dengan cara menembus blokade dagang VOC di Teluk Semangka. Seperti Kapten Thoms Forrest dengan kapal Tartar Galley dari Bengkulu.

.

Ia bekerja sama dengan para nakhoda dan pedagang lada Minangkabau, Semangka. Setelah itu, demi menghindari tekanan dari Belanda, orang-orang Minangkabau pindah ke Krui di bawah perlindungan Inggris pada Bengkulu.

.  

Gambaran ini menunjukkan bahwa jaringan niaga lada Bumi Ruwa Jurai dengan Banten, Palembang, Batavia (Belanda), dan Bengkulu (Inggris) telah membawa daerah ini dalam arus perdagangan lokal dan internasional selama dua abad. 

.

Sementara wilayah produksi lada tersebar di Kalianda, Teluk Betung, Seputih, Semangka, Pamet, Sekampung, Niebung, dan Tulang Bawang. Dari data produksi tahun 1780–1786, tampak bahwa daerah yang paling banyak menghasilkan lada ialah Kalianda dan Semangka (Broersma, 1916). 

.

Menuju Warisan Dunia 

.

Kini, pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan KEMDIKBUD RISTEK tengah menyiapkan berbagai bahan dan langkah konkrit untuk mengusulkan Jalur Rempah sebagai warisan dunia kepada UNESCO. Selain kajian dan publikasi ilmiah tentang jalur rempah, pemerintah juga menyelenggarakan pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah atau (MBJR) 2020, 2023, dan 2024. Pelayaran itu menggunakan KRI Dewaruci menyusuri Jalur Rempah membawa ratusan laskar rempah dari berbagai provinsi Tanah Air.   

.

Tahun ini, rutenya terentang antara Jakarta–Sabang (pergi-pulang). Peserta muhibah mengabarkan kepada dunia lewat berbagai platform media sosial mereka tentang potensi budaya, seni, tradisi, dan sebagainya dari setiap daerah yang tersinggahi oleh Dewaruci. Dengan demikian, kehadiran MBJR pada gilirannya juga memperkuat promosi potensi daerah-daerah Jalur Rempah Nusantara. 

.

Lalu, apakah Lampung kini dan esok dapat mendunia seperti dahulu ketika lada menjadi komoditas primadona perdagangan dunia? 

Tags: 2024AcehBahariBelitung TimurCagar BudayacengkehDumaiheadlinejakartaJalur RempahKemdikbud RistekKRI Dewarucilada hitamLAMPUNGLautMalakaMarinirMaritimMBJRmyristica fragransOpinipalaPelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempahpiper nigrum)Rempah RempahSabangSiaksyzygium aromaticumTanah LadoTanjung UbanTNI ALUNESCOWarisan Dunia
ShareSendShareTweet
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Kampung Pulau Pasaran, Cungkeng, dan wilayah sekitarnya di Kelurahan Kota Karang, Telukbetung Timur, melaksanakan ibadah salat Id berjamaah di atas jembatan warna warni, akses penghubung Pulau Pasaran, Sabtu 21 Maret 2026.

Warga Pulau Pasaran Salat Id Perdana di Atas Jembatan Laut

byDelima Napitupuluand1 others
21/03/2026

Bandar Lampung (lampost.co)--Suasana perayaan Idulfitri 1447 Hijriah di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung menyuguhkan pemandangan yang tidak biasa. Untuk pertama...

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat bersilaturahmi dengan masyarakat setelah salat Idul Fitri 2026. (ANTARA

Momentum Idulfitri Perkuat Persatuan Membangun Provinsi Lampung

byDelima Napitupulu
21/03/2026

Bandar Lampung (lampost.co)--Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memaknai Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah sebagai titik balik untuk mempercepat kemajuan daerah...

Warga antusias mengikuti takbiran Hari Raya Idul Fitri berlangsung meriah di Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat, 20 Maret 2026. (FOTO: Lampost.co / Intan Tyas)

Ribuan Warga Kecamatan Palas Antusias Lantunkan Takbir Keliling

byTriyadi Isworo
20/03/2026

Bandar Lampung (Lampost.co) – Suasana malam takbiran Hari Raya Idul Fitri berlangsung meriah di Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat,...

Berita Terbaru

Skema WFH
Mudik Dan Lebaran

Panduan Sistem Kerja Fleksibel Lebaran 2026

byDelima Napitupulu
21/03/2026

Jakarta (lampost.co)--Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah merilis panduan strategis mengenai pengaturan pola kerja selama periode Idulfitri 1447 Hijriah....

Read moreDetails
Presiden Prabowo Subianto .(Dok. Biro Pers Istana)

Kebijakan Kerja Dari Rumah Antisipasi Krisis Global

21/03/2026
Kampung Pulau Pasaran, Cungkeng, dan wilayah sekitarnya di Kelurahan Kota Karang, Telukbetung Timur, melaksanakan ibadah salat Id berjamaah di atas jembatan warna warni, akses penghubung Pulau Pasaran, Sabtu 21 Maret 2026.

Warga Pulau Pasaran Salat Id Perdana di Atas Jembatan Laut

21/03/2026
ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan menyiapkan sebanyak 57 kapal pada angkutan arus mudik dan balik Lebaran tahun 2026. Dok/Lampost.co

Kebijakan WFH Pasca Idulfitri Hemat Konsumsi BBM

21/03/2026
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat bersilaturahmi dengan masyarakat setelah salat Idul Fitri 2026. (ANTARA

Momentum Idulfitri Perkuat Persatuan Membangun Provinsi Lampung

21/03/2026
Facebook Instagram Youtube TikTok Twitter

Affiliated with:

Informasi

Alamat 
Jl. Soekarno – Hatta No.108, Hajimena, Lampung Selatan

Email

redaksi@lampost.co

Telpon
(0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi)

Sitemap

Beranda
Tentang Kami
Redaksi
Compro
Iklan
Microsite
Rss
Pedoman Media Siber

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.