• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • E-Paper
Senin, 19/01/2026 21:38
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS
No Result
View All Result
Home Lampung Bandar Lampung

Populasi Satwa Liar Turun Drastis hingga 73 Persen dalam 50 Tahun

NurbyNur
10/10/24 - 11:16
in Bandar Lampung, Humaniora, Pemutihan Pajak
A A
Terjadi penurunan eksesif sebesar 73% pada ukuran rata-rata populasi satwa liar yang dipantau.

Terjadi penurunan eksesif sebesar 73% pada ukuran rata-rata populasi satwa liar yang dipantau. Dok/Antara

Bandar Lampung (Lampost.co)— Dalam 50 tahun terakhir, dari 1970 hingga 2020, terjadi penurunan drastis hingga 73% pada populasi satwa liar yang terpantau, menurut laporan Living Planet Report (LPR) 2024 dari WWF.

Laporan ini memperingatkan bahwa Bumi mendekati titik kritis berbahaya yang dapat mengancam umat manusia. Oleh karena itu perlu tindakan kolektif yang besar dalam lima tahun ke depan untuk mengatasi krisis iklim dan alam.

Living Planet Index (LPI), yang di kembangkan oleh Zoological Society of London (ZSL), mencakup 35.000 tren populasi dari 5.495 spesies.

Penurunan paling signifikan terjadi di ekosistem air tawar (-85%), menyusul oleh ekosistem darat (-69%) dan laut (-56%). Penyebab utama adalah penyempitan habitat akibat sistem pangan yang tidak berkelanjutan. Eksploitasi berlebihan, spesies invasif, dan penyakit.

Perubahan iklim juga menjadi ancaman besar, terutama di Amerika Latin dan Karibia, di mana populasi satwa liar turun hingga 95%.

Penurunan populasi satwa liar menunjukkan peningkatan risiko kepunahan dan kerusakan ekosistem. Ekosistem yang rusak tidak lagi mampu memberikan manfaat penting seperti udara dan air bersih, serta tanah yang subur.

Hilangnya hutan hujan Amazon dan terumbu karang merupakan tanda bahaya yang dapat berdampak pada ketahanan pangan dan mata pencaharian global.

Peringatan ini muncul bersamaan dengan kebakaran di Amazon yang mencapai tingkat tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Serta konfirmasi pemutihan terumbu karang global keempat tahun ini. WWF menegaskan bahwa tindakan nyata perlu untuk menghentikan kerusakan ini.

Penurunan Drastis

Beberapa spesies yang dipantau menunjukkan penurunan drastis, seperti penyu sisik di Australia (-57%). Lumba-lumba sungai di Amazon (-65%), dan lumba-lumba tucuxi (-75%) di Brasil.

Namun demikian, ada beberapa contoh sukses konservasi. Seperti peningkatan gorila gunung dan bison Eropa, keberhasilan di satu area saja tidak cukup untuk menghadapi krisis global.

Meskipun banyak negara telah menyepakati tujuan global untuk melindungi keanekaragaman hayati, mengurangi emisi karbon.

Serta mengentaskan kemiskinan, laporan WWF menyatakan bahwa tindakan di lapangan masih jauh dari memadai untuk mencapai target 2030.

Konferensi COP16 dan COP29 mendatang adalah kesempatan penting bagi negara-negara untuk meningkatkan komitmen mereka. WWF menyerukan aksi yang lebih ambisius dari pemerintah dan sektor swasta. Termasuk pendanaan yang lebih besar dan kebijakan yang lebih selaras dengan tujuan keberlanjutan global.

Direktur WWF-Internasional, Kirsten Schuijt, menegaskan meskipun situasinya kritis, masih ada harapan jika tindakan segera di ambil.

Andrew Terry dari ZSL juga menekankan pentingnya tindakan segera untuk menghindari titik kritis yang berbahaya bagi kehidupan di Bumi.

Sementara itu, CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat memicu kepunahan spesies kunci di Indonesia, dan menyerukan kerja sama dari semua pihak untuk melindungi habitat dan masyarakat lokal.

Tags: populasi satwasatwa liarWWF
ShareSendShareTweet
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materiil Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang diajukan Ikatan Wartawan Hukum (IWAKUM).

Akhiri Kriminalisasi Kerja Jurnalistik,MK Pertegas Perlindungan Wartawan

byNur
19/01/2026

Jakarta (Lampost.co)-— Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materiil Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang mengajukan Ikatan...

menertibkan sejumlah bangunan yang menjadi penyebab banjir di sejumlah wilayah Kota Tapis Berseri.

Pemkot Bandar Lampung Bongkar Paksa Bangunan Biang Kerok Banjir

byDelima Napitupuluand1 others
19/01/2026

Bandar Lampung (lampost.co)--Pemkot Bandar Lampung akhirnya mengambil tindakan ekstrem untuk memutus rantai banjir tahunan. Petugas kini mulai menghancurkan sejumlah bangunan...

Satgas Gabungan saat membersihkan tembok rubuh di Jalan Antasari, Kedamaian, Bandar Lampung, Senin 19 Januari 2026. Foto Andi Apriadi

Hujan Deras Picu Longsor-Tembok Runtuh di Sejumlah Wilayah Bandar Lampung

byDelima Napitupuluand1 others
19/01/2026

Bandar Lampung (lampost.coHujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung sejak akhir pekan memicu sejumlah kejadian bencana, mulai dari longsor hingga...

Berita Terbaru

masyarakat dihimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan masing-masing agar tidak terdampak genangan atau banjir.
Lampung

BPBD Bandar Lampung Siagakan Satgas Khusus 24 Jam

byDelima Napitupuluand1 others
19/01/2026

Bandar Lampung (lampost.co)--Pemkot Bandar Lampung akhirnya mengambil tindakan ekstrem untuk memutus rantai banjir tahunan yang kerap merendam wilayah Tapis Berseri....

Read moreDetails
MYF 2026 (1)

Universitas Malahayati Resmi Buka Malahayati Year Festival 2026

19/01/2026
Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materiil Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang diajukan Ikatan Wartawan Hukum (IWAKUM).

Akhiri Kriminalisasi Kerja Jurnalistik,MK Pertegas Perlindungan Wartawan

19/01/2026
menertibkan sejumlah bangunan yang menjadi penyebab banjir di sejumlah wilayah Kota Tapis Berseri.

Pemkot Bandar Lampung Bongkar Paksa Bangunan Biang Kerok Banjir

19/01/2026
Lokasi penemuan pesawat jatuh.Dok

Smartwatch Kopilot ATR di Bulusaraung Catat Ribuan Langkah, Keluarga Yakin Farhan Masih Bertahan Hidup

19/01/2026
Facebook Instagram Youtube TikTok Twitter

Affiliated with:

Informasi

Alamat 
Jl. Soekarno – Hatta No.108, Hajimena, Lampung Selatan

Email

redaksi@lampost.co

Telpon
(0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi)

Sitemap

Beranda
Tentang Kami
Redaksi
Compro
Iklan
Microsite
Rss
Pedoman Media Siber

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BOLA
  • TEKNOLOGI
  • EKONOMI BISNIS
    • BANK INDONESIA LAMPUNG
    • BANK SYARIAH INDONESIA
    • BANK LAMPUNG
    • OTOMOTIF
  • PENDIDIKAN
    • UNIVERSITAS TEKNOKRAT INDONESIA
    • UNILA
    • UIN LAMPUNG
    • U B L
    • S T I A B
  • KOLOM
    • OPINI
    • REFLEKSI
    • NUANSA
    • TAJUK
    • FORUM GURU
  • LAMPUNG
    • BANDARLAMPUNG
    • PEMKOT BANDARLAMPUNG
    • PEMPROV LAMPUNG
    • TULANG BAWANG BARAT
    • LAMPUNG BARAT
    • LAMPUNG TIMUR
  • IKLAN PENGUMUMAN
  • VIDEO
    • Breaking News
    • Bedah Tajuk
    • Economic Corner
    • Podcast
  • INDEKS

Copyright © 2024. Lampost.co - Media Group, All Right Reserved.