Salatiga (Lampost.co)–Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memantau langsung pemenuhan Tunjangan Hari Raya (THR) dari perusahan-perusahaan kepada pekerja di wilayahnya. Salah satu pantauan di PT Selalu Cinta Indonesia (SCI) Kota Salatiga.
“Saya ingin memastikan bahwa hak buruh dalam hal ini terkait THR diberikan maksimal H-7 lebaran. Ini sesuai surat edaran kementerian,” kata Luthfi saat pemantauan di PT SCI pada Selasa, 10 Maret 2026.
Selain memantau langsung, posko layanan aduan juga sudah Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah siapkan. Posko THR berada di Kantor Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jateng dan 6 wilayah satwaker yaitu Semarang, Surakarta, Pati, Pekalongan, Banyumas, dan Magelang.
Baca Juga: Fasilitasi Mudik 2026 Gratis, Pemprov Jateng Siapkan 346 Bus dan 17 Rangkaian Kereta Api
Pemprov Jateng juga berkoordinasi dengan instansi terkait lain, termasuk Desk Tenaga Kerja Polda Jateng untuk memantau terkait THR dan permasalahan ketenagakerjaan lainnya. Sejauh ini belum ada laporan atau aduan terkait pemberian THR dan Bonus Hari Raya (BHR) di Jawa Tengah.
“Posko layanan aduan sudah ada sampai kabupaten/kota. Silakan buruh atau siapapun yang mengadu terkait dengan tenaga kerja bisa 24 jam. Ini untuk melindungi tenaga kerja kita agar tetap produktif,” katanya.
Sementara itu dari pantauan di PT SCI, Luthfi mengapresiasi pihak manajemen produsen alas kaki tersebut. Sebab, THR karyawan sudah tersalurkan pada 5 Maret 2026. Menurutnya, hal yang PT SCI lakukan ini bisa menjadi contoh bagi perusahaan-perusahaan lain agar memberikan THR lebih awal.
“Saya mengapresiasi PT SCI karena hak teman-teman buruh telah diberikan. Ini suatu bentuk hubungan industrial yang sehat sekali,” katanya.
Apresiasi Perusahaan
Luthfi menjelaskan, PT SCI merupakan contoh investasi padat karya yang sudah lama ada di Jawa Tengah. Mulai dari 1.500 tenaga kerja pada 2016 hingga saat ini sudah mencapai 18 ribuan tenaga kerja.
Menurut Gubernur Jateng, investasi padat karya memiliki peran penting, karena mampu mengurangi angka pengangguran di wilayahnya. Karenanya, sektor investasi perlu terus digenjot untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan menyejahterakan masyarakat.
Pemprov Jateng berupaya menjaga iklim investasi yang sehat, mulai dari jaminan kepastian hukum, rasa aman, tenaga kerja kompetitif. Juga tersedia lahan yang luas, serta perizinan yang mudah dan cepat.
“Kami dengan para bupati-wali kota juga bersepakat untuk menjadi manajer marketing untuk wilayah kita. Saya yakin Jawa Tengah menjadi gudangnya investasi,” ucapnya.
Sebagai informasi, per 9 Maret 2026, jumlah perusahaan di Jawa Tengah sekitar 263.853 perusahaan. Terdiri atas 250.074 usaha mikro, 5.594 usaha kecil, 5.326 usaha menengah, dan 2.859 usaha besar.
Sementara jumlah total tenaga kerja di Jawa Tengah adalah 2.506.916 orang. Terdiri dari 1.047.558 tenaga kerja laki-laki dan 1.459.358 tenaga kerja perempuan.
Ikuti terus berita dan artikel Lampost.co lainnya di Google News








