Kondisi terkini kawasan Way Kambas yang memiliki luas sekitar 125 ribu hektare dan berperan penting dalam konservasi global.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Universitas Lampung bersama Living Landscapes Indonesia menjajaki peluang kerja sama strategis dalam penguatan konservasi lingkungan. Riset biodiversitas, hingga pengembangan model pembiayaan konservasi berbasis hasil di kawasan Taman Nasional Way Kambas.
Pembahasan kolaborasi tersebut berlangsung dalam diskusi intensif di ruang kerja Wakil Rektor Bidang Perencanaan. Kerja Sama, dan Sistem Informasi (PKSI) Rektorat Unila lantai dua.
Pertemuan dihadiri Direktur Living Landscapes Indonesia, Madina Rain Firdaus bersama sejumlah ahli biologi, termasuk Beth Kaplin.
Rombongan yang menerima langsung Wakil Rektor Bidang PKSI Unila Ayi Ahadiat. Ia di dampingi Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Pertanian Purnomo. Ketua Jurusan Kehutanan Bainah Sari Dewi, serta dosen kehutanan Hari Kaskoyo.
Dalam pemaparannya, Madina Rain Firdaus menjelaskan visi jangka panjang kolaborasi tersebut. Yakni menjadikan Taman Nasional Way Kambas sebagai lokasi awal pengembangan model konservasi berbasis karbon dan restorasi habitat.
Menurutnya, model tersebut harapannya dapat direplikasi di berbagai taman nasional lain di Indonesia untuk menciptakan pembiayaan jangka panjang bagi konservasi. Sekaligus mendukung target iklim dan perlindungan biodiversitas nasional.
“Konservasi membutuhkan kolaborasi akademik, penelitian berbasis sains, inovasi teknologi, serta monitoring lingkungan yang berkelanjutan. Kami berharap dapat membangun kolaborasi ini melibatkan mahasiswa dan akademisi Unila,” ujar Madina.
Ia juga memaparkan kondisi terkini kawasan Way Kambas yang memiliki luas sekitar 125 ribu hektare dan berperan penting dalam konservasi global.
Namun kawasan tersebut kini menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari penyebaran spesies invasif yang mengancam keanekaragaman hayati akuatik, gangguan rantai pakan satwa liar, hingga menurunnya fungsi ekologis ekosistem riparian.
Selain itu, tekanan perambahan kawasan, perubahan tutupan lahan, dan keterbatasan kapasitas pemantauan berbasis data turut menjadi persoalan yang dinilai perlu ditangani secara kolaboratif.
Madina menilai kedekatan geografis Unila dengan kawasan Way Kambas, ditambah keberadaan program studi Kehutanan, Biologi, dan Sosiologi yang kompeten serta tradisi riset lingkungan yang kuat. Menjadikan Unila sebagai mitra ideal dalam pengembangan program konservasi terpadu.
Program yang dirancang meliputi pemantauan biodiversitas, pengendalian spesies invasif, kajian sosial-ekologi, hingga pengembangan mekanisme pembiayaan konservasi berbasis hasil.
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update