#Vaksin#ramadan#lampostjumat

Hukum Suntik Vaksin saat Berpuasa

( kata)
Hukum Suntik Vaksin saat Berpuasa
Presiden Joko Widodo disuntik vaksin covid-19. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden.


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Presiden Joko Widodo menyampaikan program vaksinasi covid-19 bakal tetap berjalan saat Ramadan 1442 pada April 2021. Hanya saja, suntik vaksin akan dilakukan di malam hari. Sedangkan penyuntikan di siang hari akan dilakukan di daerah-daerah berpenduduk nonmuslim.

Skema penyuntikan vaksin ini disusun berdasarkan sikap kehati-hatian Pemerintah. Meski dalam kajian fikih, sebagian besar ulama berpendapat tindakan medis suntik semacam vaksin dan lainnya dihukumi tidak sampai membatalkan puasa.

 

Memasukkan zat ke dalam tubuh

Syekh Ibnu Qosim Al Ghazi dalam Fath Al-Qarib menjelaskan, hal-hal yang bisa membatalkan puasa adalah masuknya zat atau sesuatu ke dalam tubuh melalui beberapa lubang organ secara disengaja, mengobati atau berobat dengan cara memasukkan benda ke dalam tubuh melalui lubang asal, muntah dengan sengaja, berhubungan seksual, keluarnya sperma dengan sebab bersentuhan kulit, keluar haid atau pun nifas, gangguan jiwa alias gila, dan murtad atau menyatakan keluar dari agama Islam.

Ibnu Abbas dan Ikrimah, sebagaimana tercantum pada pembukaan bab Al-Hijamah wal Qai' li Ash-Shaim dalam Fathul Bari bi Syarhi Shahih Al-Bukhari menyatakan, puasa bisa menjadi batal dengan sebab adanya sesuatu yang masuk (ke dalam tubuh), bukan karena sesuatu yang keluar (dari tubuh). 

Baca: Masih Ada Kesempatan, Ini Cara dan Niat Membayar Utang Puasa Tahun Lalu

 

Perbedaan pendapat batal tidaknya puasa saat menjalani tindakan medis berupa suntik dan sejenisnya memang berpangkal pada fakta masuknya zat dari luar ke dalam tubuh. 

Suntik adalah kegiatan memasukkan obat atau nutrisi melalui otot atau pembuluh darah. Mayoritas ulama menghukumi suntik tidak membatalkan puasa dengan argumentasi obat atau nutrisi tersebut tidak masuk melalui lubang asal seperti mulut, hidung, telinga, dan dubur. 

Akan tetapi, ada juga yang menyebutkan jika yang disuntikkan adalah nutrisi dengan fungsi setara asupan makanan dan bisa memberikan energi berlebih kepada seseorang maka dihukumi membatalkan puasa. 

Soal ini, Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf atau dikenal dengan Imam Nawawi, dalam Raudlatut Thalibin menyatakan, masuknya zat yang bisa membatalkan puasa adalah jika sesuatu itu masuk ke dalam perut, otak, atau rongga dalam (jauf) melalui lubang tembus yang terbuka (manfadz maftuh/munfatih).

Itu sebabnya, dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, Imam Nawawi kembali menegaskan bahwa kegiatan makan bisa membatalkan puasa, sekalipun memakan kerikil, biji, kayu, rumput, atau yang sesuatu yang sebenarnya tidak biasa dimakan dan tidak dapat memperkuat tubuh.

Ulama kontemporer, Syekh Yusuf Qordlowi dalam Taysir Al-Fiqh fi Dhau’i Al-Qur’an wa As-Sunnah (Fiqh As-Shiyam) menyebut suntik yang digunakan untuk pengobatan, seperti untuk menurunkan panas dan kekebalan tubuh yang mengandung vitamin, kalsium, dan lainnya tidak membatalkan puasa. Alasannya, proses masuknya vitamin tersebut tidak melalui lubang-lubang yang terbuka.

 

Tujuan medis 

Imam Syafi'i, sebagaimana dikutip Syekh Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, mengatakan, mengeluarkan darah secara sengaja dengan merobek otot tidaklah membatalkan puasa. Pendiri mazhab Syafiiyah itu juga menyatakan, tidak pernah ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) bahwa berbekam itu boleh dilakukan di siang hari karena tidak membatalkan puasa.  

Pendapat Imam Syafii tersebut dilengkapi dengan mengutip kisah Rasulullah Muhammad Saw yang pernah berbekam saat berpuasa dan berihram. 

Lebih jelas lagi, Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, melukai diri atau dilukai orang lain yang diizinkan, tidak membatalkan puasa. Dengan catatan, tak ada zat apapun yang masuk ke dalam tubuh.  

Tidak pula membatalkan puasa orang yang mengeluarkan darah akibat mimisan, melukai diri atau dilukai orang lain atas seizinnya. Serta tidak ada sesuatu apapun yang masuk ke lubang tubuhnya dari alat untuk melukai tersebut, meskipun luka itu sebagai ganti dari bekam. Sebab, tidak ada nash mengenai itu dan qiyas tidak menututnya.

Alhasil, selama tidak mengakibatkan masuknya sesuatu ke dalam tubuh, maka mengikuti tindakan medis, terlebih suntik vaksin tidaklah membatalkan puasa. Terlebih, vaksinasi dilakukan demi kemaslahatan yang dapat dibenarkan menurut sudut pandang syariat. 

 

Sumber: Disadur dari keterangan dalam Fath Al-Qarib karya Syekh Ibnu Qosim Al Ghazi, Fathul Bari bi Syarhi Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, Raudlatut Thalibin dan Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab karya Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf An-Nawawi, Taysir Al-Fiqh fi Dhau’i Al-Qur’an wa As-Sunnah (Fiqh As-Shiyam) karya Syekh Yusuf Qordlowi, serta Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu karya Syekh Wahbah Zuhaili. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar