Bandar Lampung (Lampost.co) — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Lampung menggelar Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 dengan tema “Tangguh Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”. Acara berlangsung di Ballroom Hotel Novotel Lampung pada Jumat, 28 November 2025, dan terhubung secara daring dengan agenda serupa di Kantor Pusat BI, Jakarta.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lampung, Achmad Subarkah, menyampaikan perekonomian Lampung pada 2025 menunjukkan akselerasi yang solid. Pertumbuhan berada pada kisaran 4,9–5,5 persen dengan inflasi yang tetap terjaga pada sasaran 2,5-1 persen hingga akhir tahun.
“Perekonomian Lampung 2025 menunjukkan akselerasi. Pertumbuhan terjaga di 4,9–5,5 persen dan inflasi menjadi salah satu yang terendah secara nasional,” ujar Subarkah.
Ia menjelaskan akselerasi tersebut dari peningkatan sektor pertanian dan penguatan hilirisasi komoditas unggulan dalam ekosistem industri makanan dan minuman. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi elemen penting dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah.
“Kami mengapresiasi Pemerintah Provinsi Lampung, dunia usaha, perbankan, akademisi, seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan atas kolaborasinya. Lampung bisa tumbuh kuat di tengah tantangan global berkat sinergi ini,” kata dia.
Ia menambahkan program intensifikasi pertanian pemerintah pusat dan daerah memberi dampak nyata bagi peningkatan produksi pangan. Program tersebut mencakup penambahan pupuk bersubsidi, rehabilitasi irigasi, mekanisasi, pemanfaatan pupuk organik cair, dan optimalisasi lahan.
“Penambahan pupuk, perbaikan irigasi, hingga mekanisasi pertanian memberikan dampak nyata bagi peningkatan hasil panen,” ujarnya.
Berdasarkan data KSA BPS, produksi gabah kering giling hingga Oktober 2025 meningkat sekitar 12 persen dan memperkuat ketersediaan pasokan pangan daerah. Begitu pula, program makan bergizi gratis turut meningkatkan permintaan terhadap pangan lokal dari sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan.
Sementara itu, penyaluran kredit di Lampung tumbuh 3,12 persen, terutama pada kredit konsumsi, UMKM, dan KPR. Kinerja perbankan di Lampung tetap solid dan mencerminkan aktivitas ekonomi yang bergerak positif. “Likuiditas perbankan terjaga dan kredit tetap tumbuh positif, mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus bergerak,” kata dia.
Perluasan Transasi Non-Tunai
Bank Indonesia juga memastikan distribusi uang rupiah berjalan lancar di seluruh wilayah Lampung. Selain itu, perluasan penggunaan transaksi non-tunai terus gencar untuk meningkatkan efisiensi pembayaran. “Adopsi QRIS sepanjang 2025 tumbuh sangat pesat. Volume transaksi meningkat 112,09 persen dan jumlah merchant mencapai 739 ribu,” ujarnya.
Dia menyatakan capaian sektor pangan, stabilitas keuangan, serta percepatan digitalisasi menjadi fondasi kuat bagi prospek ekonomi Lampung pada tahun mendatang.
Memasuki 2026, perekonomian Lampung bisa tumbuh lebih tangguh pada kisaran 4,9–5,7 persen dengan inflasi yang tetap terkendali pada 2,5±1 persen. Proyeksi itu seiring proyek pembangunan pemerintah dan swasta, peningkatan produksi pangan, serta perluasan insentif fiskal.






