Bandar Lampung (lampost.co)–Bank Indonesia mengingatkan perlunya mitigasi terhadap sejumlah risiko inflasi di Lampung sepanjang tahun 2026. Kepala KPw BI Lampung, Bimo Epyanto, menyampaikan hal ini pada Selasa, 6 Januari 2026.
Bimo menyoroti potensi kenaikan inflasi inti akibat peningkatan permintaan masyarakat. Kondisi ini merupakan dampak penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP) yang terealisasi secara bertahap.
Selain itu, peningkatan mobilitas saat Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah turut memicu tekanan harga. Harga emas dunia juga diperkirakan terus naik akibat ketidakpastian geopolitik dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
Dari sisi pangan, tantangan muncul akibat fenomena alam. Bimo menyebut peningkatan curah hujan dan risiko banjir dapat menghambat panen padi serta distribusi pangan.
“Prediksi BMKG menunjukkan fenomena La Nina lemah akan berlanjut hingga awal 2026,” ujar Bimo.
Potensi gangguan pasokan juga mengintai akibat bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sumatera. Hal ini berisiko menghambat kelancaran arus logistik komoditas strategis antarwilayah.
Terakhir, Bimo meminta semua pihak mencermati kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices). Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor penentu utama.
Selain itu, potensi penyesuaian tarif angkutan darat dan udara pada puncak libur juga perlu diwaspadai. BI berkomitmen terus memantau dinamika ini demi menjaga stabilitas ekonomi Lampung.








