Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak kapal nelayan yang memilih untuk tetap bersandar di dermaga.
Bandar Lampung (Lampost.co) — Cuaca ekstrem yang melanda wilayah perairan Lampung dalam sepekan terakhir mulai berdampak pada sektor perikanan.
Sejumlah nelayan di pesisir Bandar Lampung, khususnya di kawasan Gudang Lelang dan Lempasing, mengeluhkan penurunan hasil tangkapan yang signifikan akibat gelombang tinggi dan angin kencang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak kapal nelayan yang memilih untuk tetap bersandar di dermaga. Bagi nelayan yang memaksakan diri untuk melaut, hasil yang didapat seringkali tidak sebanding dengan biaya operasional, terutama bahan bakar.
“Anginnya sangat kencang di tengah, gelombang bisa sampai satu meter lebih. Selain bahaya, ikan-ikan juga susah dicari kalau cuaca begini,” ujar Rusdi, salah satu nelayan di Lempasing, Kamis, 7 Mei 2026.
Baca Juga:
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem 8-11 Mei 2026, ini Wilayah yang Terancam Hujan Lebat dan Petir
Penurunan volume tangkapan ini mulai memicu efek domino di pasar-pasar lokal. Mulai dari penurunan pasokan ikan hingga harga yang mulai merangkak naik karena kurangnya stok.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca buruk di wilayah perairan barat Lampung dan teluk Lampung. Masyarakat pesisir dan nelayan agar terus memantau informasi cuaca secara berkala sebelum memutuskan untuk melaut.
“Kemarin dapat info dari BMKG cuaca buruk beberapa minggu terakhir akan terus berlangsung dan meminta agar kami nelayan untuk tidak melaut apabila cuaca terlihat memburuk,” tambah Rusdi.
Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Para nelayan berharap adanya perhatian atau bantuan dari pemerintah daerah. Terutama dalam menjaga stabilitas harga pangan dan bantuan bagi nelayan yang terdampak langsung oleh cuaca ekstrem ini.
(Fauzan Al Djabar/Magang)
Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update