Bandar Lampung (Lampost.co) — Pelaku UMKM di Bandar Lampung melewati 2025 dengan tekanan penjualan yang terasa berat. Penurunan daya beli membuat omzet harian tidak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah pedagang tetap memilih bertahan di tengah kondisi sulit. Mereka terus membuka usaha sambil berharap 2026 membawa perubahan positif.
Penjual mi wonton di Jalan Imam Bonjol, Epi, mengaku merasakan langsung penurunan penjualan sepanjang 2025. Jumlah pembeli tidak lagi seramai tahun sebelumnya.
Namun, dia tidak mengetahui penyebab pasti turunnya omzet. Dia menilai kondisi tersebut sebagai bagian dari dinamika usaha kecil.
Meski begitu, ia tetap menjalankan usaha dengan konsisten dan fokus pada ketekunan serta menjaga semangat berdagang.
“Pelaku usaha harus tetap rajin meski pembeli sepi. Sikap pantang menyerah menjadi kunci bertahan dalam situasi sulit,” kata Epi.
Kondisi serupa juga dirasakan Siti, penjual gorengan, yang merasakan penurunan pembeli dan penjualan dan tidak stabil selama 2025.
“Penghasilan harian sering tidak menentu. Kadang ramai, tetapi lebih sering mengalami sepi pembeli,” kata Siti.
Menurut dia, minat belanja masyarakat memang sedang melemah. Namun, ia memilih bertahan daripada menghentikan usaha dengan tetap membuka lapak setiap hari tanpa jeda.
Bahkan, dia tetap berupaya menjaga kualitas dagangan agar pelanggan setia tetap bertahan. Strategi tersebut penting di tengah persaingan ketat. Sebab, konsistensi dan kualitas menjadi modal utama UMKM.
“Kalau pedagang kecil ini cuma berharap kondisi ekonomi membaik pada 2026. Mereka menantikan peningkatan daya beli masyarakat,” ujar dia.
Kondisi itu diharapkan dapat berimbas pada kestabilan usaha dan penjualan yang lebih ramai. “UMKM ingin kembali merasakan geliat ekonomi seperti sebelumnya,” kata dia.
Restu Amalia








