Jakarta (Lampost.co) — Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu tekanan besar pada sektor energi global. Gangguan distribusi minyak terjadi di jalur vital Selat Hormuz. Jalur itu menjadi penghubung utama pasokan energi dari kawasan Teluk ke dunia.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam. Dampaknya langsung terasa pada kenaikan harga BBM di banyak negara. Data Global Petrol Prices menunjukkan lonjakan terjadi secara luas, tidak hanya di satu kawasan.
Negara Asia dan Berkembang Paling Terdampak
Negara-negara Asia menjadi kelompok paling rentan. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi memperbesar dampak krisis. Jepang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyak dari kawasan Teluk. Sementara Korea Selatan bergantung hingga 70 persen.
Sebagai respons, Jepang menyiapkan pelepasan cadangan minyak strategis. Korea Selatan bahkan menetapkan batas harga BBM untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Asia Selatan Hadapi Tekanan Lebih Berat
Di kawasan Asia Selatan, tekanan terasa lebih dalam. Pakistan dan Bangladesh menghadapi keterbatasan fiskal dan cadangan energi.
Pakistan mengurangi hari kerja kantor menjadi empat hari per minggu. Pemerintah juga menerapkan kerja dari rumah hingga 50 persen. Bangladesh memilih menutup kampus untuk menghemat energi nasional.
Indonesia dan Asia Tenggara Ikut Terdampak
Indonesia juga mengalami kenaikan harga BBM. Harga Pertamax naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter. Kenaikan itu mencerminkan tekanan global yang mulai merembet ke pasar domestik.
Selain Indonesia, negara seperti Singapura, Myanmar, Vietnam, dan Australia juga mengalami lonjakan harga.
Kenaikan Harga BBM Menyebar ke Berbagai Benua
Lonjakan harga BBM tidak hanya terjadi di Asia. Negara di Timur Tengah, Eropa, Afrika, hingga Amerika ikut terdampak. Beberapa di antaranya meliputi Jerman, Prancis, Italia, Brasil, dan Inggris. Kondisi itu menunjukkan krisis energi telah berubah menjadi masalah global lintas kawasan.
Sementara Di Amerika Serikat, harga bensin juga naik tajam. Rata-rata harga meningkat dari US$2,94 menjadi US$3,58 per galon.
Di beberapa wilayah, harga bahkan menembus US$4 per galon. Sementara di California, harga melampaui US$5 per galon. Kenaikan itu menjadi yang tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Dampak Lanjutan: Ancaman Inflasi Pangan
Kenaikan harga energi berpotensi memicu lonjakan harga pangan global. Energi berperan dalam seluruh rantai pasok, mulai dari produksi pupuk hingga distribusi barang.
Negara berpendapatan rendah menghadapi risiko paling besar. Mereka memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor pangan dan energi.
10 Negara dengan Kenaikan Harga BBM Tertinggi
Berikut daftar negara dengan lonjakan harga BBM paling signifikan:
- Kamboja naik 67,81 persen
- Vietnam naik 49,73 persen
- Nigeria naik 35,02 persen
- Laos naik 32,94 persen
- Kanada naik 28,36 persen
- Pakistan naik 24,49 persen
- Maladewa naik 18,54 persen
- Australia naik 18,23 persen
- Amerika Serikat naik 16,55 persen
- Singapura naik 15,69 persen
Ketegangan geopolitik dan gangguan distribusi minyak membuat pasar energi sulit stabil. Selama konflik belum mereda, harga BBM diperkirakan tetap tinggi. Negara-negara dunia kini berlomba mencari strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasokan energi.








