Bandar Lampung (lampost.co)–Pergerakan harga energi internasional sepanjang tahun 2025 berdampak langsung pada inflasi di Provinsi Lampung. Hal ini menyusul kebijakan Pertamina yang melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi secara berkala guna mengikuti fluktuasi harga pasar global.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Lampung, Bimo Epyanto, menjelaskan bahwa kenaikan harga bensin menjadi salah satu pendorong inflasi pada Desember 2025. Meskipun demikian, kenaikan tersebut berhasil diredam oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas pangan dan jasa lainnya.
“Laju inflasi yang lebih tinggi pada Desember 2025 tertahan oleh penurunan harga tomat, salak, terong, hingga sabun mandi cair,” terang Bimo, Selasa, 6 Januari 2026.
Berdasarkan data Bank Indonesia, komoditas tomat memberikan andil deflasi sebesar -0,04 persen, disusul salak sebesar -0,02 persen. Penurunan harga ini terjadi berkat terjaganya pasokan dari hasil panen di sejumlah sentra produksi lokal yang melimpah.
Tarif Transportasi
Selain sektor pangan, tarif transportasi juga memberikan dampak positif bagi daya beli masyarakat. Tarif angkutan sungai, danau, dan penyeberangan mencatatkan andil -0,01 persen (mtm).
“Penurunan tarif penyeberangan ini karena kebijakan pemberian potongan harga bagi penumpang selama periode Nataru,” tambah Bimo.
Menatap tahun 2026, Bank Indonesia optimis stabilitas ekonomi di Lampung akan terus menguat. KPw BI Lampung memproyeksikan inflasi akan tetap berada dalam rentang sasaran pemerintah, yakni 2,5±1 persen (year-on-year/yoy) hingga akhir 2026.
Sinergi antara kebijakan moneter dan pengawasan ketersediaan pasokan pangan oleh pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menjaga tingkat inflasi.








