Bandar Lampung (Lampost.co) — Harga sewa ruko di Bandar Lampung menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha. Tingginya harga sewa membuat pedagang harus cermat dalam menentukan strategi untuk menekan biaya operasional.
Pemilik usaha buket bunga di Bandar Lampung, Salsa, mengaku harga sewa sangat terpengaruh dari lokasi.
“Makin strategis tempatnya, makin mahal harga sewanya. Kalau untuk bisnis yang masih baru pasti terasa mahal, kecuali bisnisnya sudah berjalan cukup besar,” ujar Salsa.
Ia menjelaskan, berdasarkan surveinya, harga sewa ruko di jalan utama seperti Jalan Raden Intan, Teuku Umar, dan ZA Pagar Alam mencapai Rp60–100 juta per tahun untuk tipe ruko dua lantai. Sedangkan, ruko satu lantai sekitar Rp30 juta per tahun dengan minimal kontrak lima tahun.
Sementara di jalan kecil seperti Jalan Ki Maja atau Padjajaran, ruko ukuran 3 x 5 meter hanya sekitar Rp15 juta per tahun.
“Kalau untuk bisnis saya, sewa ini nggak begitu memberatkan biaya operasional karena Alhamdulillah termasuk toko yang cukup rame, jadi fine-fine aja,” kata Salsa.
Ia menambahkan, daya beli masyarakat sangat tergantung pada harga dan kualitas produk. Sebab, banyak toko yang gagal menarik konsumen karena harga terlalu mahal, tidak sesuai pasaran, atau tidak mengikuti perkembangan teknologi.
Untuk mengakali tingginya biaya operasional harus beradaptasi dengan kemajuan model pemasaran digital. “Meningkatkan penjualan dengan mempromosikan konten lewat Instagram dan TikTok. Maksimalin di situ,” jelas dia.
Menurut dia, penyesuaian dengan karakteristik pasar lokal menjadi kunci agar usaha tetap bertahan meski harga sewa ruko tinggi.








