Bandar Lampung (Lampost.co) — Sektor pertanian masih memegang peran penting dalam struktur perekonomian Lampung.
Sumbangan sektor itu terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) mencapai lebih dari 20 persen sehingga menjadi penyumbang terbesar daripada sektor lain seperti industri dan perdagangan. Namun, dalam 13 tahun terakhir pertumbuhan sektor pertanian terus mengalami penurunan.
Pengamat pertanian Universitas Lampung, Teguh Endaryanto, mengatakan penurunan itu tidak lepas dari rendahnya produktivitas sejumlah komoditas unggulan daerah.
“Salah satunya memang karena produktivitas untuk beberapa komoditas itu masih kurang tinggi. Kopi produktivitasnya baru sekitar satu ton, lada sekitar 500 kg, singkong sekitar 27 ton per hektare. Sedangkan di tempat lain bisa mencapai 35 ton per hektare,” ujar Teguh, Selasa, 2 September 2025.
Tantangan Besar Pertanian
Selain itu, tantangan besar lainnya ada pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Tingkat pendidikan tenaga kerja pertanian di Lampung tercatat masih relatif rendah. Sehingga, memengaruhi daya saing dan kemampuan mengembangkan usahatani yang lebih modern dan efisien.
“SDM dari sisi pendidikan masih relatif rendah di tingkat menengah ke bawah. Bagaimana meningkatkan produktivitas kalau SDM masih rendah, makanya perlu mendorong peningkatan SDM,” kata dia.
Menurut dia, perubahan struktur ekonomi memang tidak bisa terhindarkan. Dalam banyak kasus kontribusi pertanian cenderung menurun seiring pertumbuhan sektor industri.
Namun, kondisi itu mestinya tidak mengurangi perhatian terhadap penguatan produktivitas pertanian yang justru harus mendorong pengembangan hilirisasi. Sehingga, produk petani memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Saya berharap produk pertanian itu naik ke industrinya, hilirisasi jangan jual mentah, tapi produk dengan nilai tambah. Coba buat diversifikasi produk. Sehingga tidak banyak ekspor dalam bentuk bahan baku. Kalau ada dorongab industrialisasi akan berdampak pada ekonomi masyarakat menjadi tinggi,” ujarnya.
Kemudian, tantangan lain yang perlu menjadi perhatian adalah perkembangan nilai tukar petani (NTP). Indikator itu memang berada di atas angka 100. Artinya, petani masih memiliki nilai jual lebih besar daripada pengeluaran.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir tren NTP menunjukkan penurunan yang bisa berdampak pada kesejahteraan petani. “Itu harus dicermati, jangan sampai ekonomi naik, tapi tren NTP turun,” kata dia.







