Jutaan Hektare Lahan Biomassa di Lampung Bakal Dihilirisasi

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dorong hilirisasi 1,3 juta hektare lahan biomassa melalui kerja sama energi hijau dengan Citaglobal Berhad Malaysia.

Editor Nana Hasan, Penulis Delima Natalia
Jumat, 15 Mei 2026 20.12 WIB
Jutaan Hektare Lahan Biomassa di Lampung Bakal Dihilirisasi

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) — Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, bersama Executive Chairman & President Citaglobal Berhad, Tan Sri Dato’ Sri Mohamad Norza Zakaria, menandatangani kerja sama pengembangan energi hijau dan pengelolaan limbah. Selain sektor surya, daya tarik utama yang ditawarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung kepada investor Malaysia tersebut adalah kekayaan hayati Bumi Ruwa Jurai.

Poin Penting

  • Lampung memiliki 1,3 juta hektare lahan potensial untuk sumber energi alternatif.
  • Kerja sama strategis dengan Citaglobal Berhad mencakup energi hijau dan kawasan industri.
  • Lampung menjadi daerah prioritas nasional untuk pengembangan proyek Waste to Energy.
  • Pelabuhan laut dalam Lampung menjadi daya tarik utama untuk mengolah komoditas wilayah Sumbagsel.

Gubernur Mirza memaparkan bahwa Lampung memiliki sekitar 1,3 juta hektare lahan potensial yang menghasilkan biomassa melimpah. Selama ini, sektor pertanian dan perkebunan daerah menghasilkan sisa komoditas berupa limbah padi, jagung, singkong, nanas, hingga bagas tebu. Namun, potensi tersebut belum teroptimalkan secara maksimal sebagai sumber energi alternatif.

Baca juga : Lampung Bidik Proyek Floating Solar Panel Hingga 200 Megawatt di Tiga Bendungan

“Kami ingin Lampung tidak hanya menjual komoditas mentah, tetapi juga tumbuh melalui hilirisasi dan industri bernilai tambah,” tegas Gubernur, baru-baru ini.

Selain energi biomassa, Pemprov Lampung menawarkan peluang pengembangan proyek Waste to Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi. Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang menunjuk Lampung sebagai salah satu daerah prioritas penghasil energi berbasis sampah.

Gubernur mengakui volume sampah di Lampung terus meningkat seiring pertumbuhan wilayah. Oleh karena itu, kehadiran teknologi pengolahan sampah menjadi energi dinilai sebagai solusi jangka panjang yang terintegrasi.

“Untuk energi dari sampah sangat potensial dikembangkan di sini karena pertumbuhan volume sampahnya masih cukup tinggi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ruang lingkup kerja sama dengan Citaglobal Berhad ini juga membidik pengembangan kawasan industri baru. Posisi geografis Lampung yang bertetangga dengan Jakarta serta dukungan pelabuhan laut dalam menjadi keunggulan komparatif bagi investor.

Infrastruktur tersebut di nilai sangat strategis untuk menampung dan mengolah komoditas mentah dari seluruh wilayah Sumatera bagian selatan (Sumbagsel). Hasil olahan nantinya akan didistribusikan ke pasar domestik maupun internasional.

“Kalau targetnya mengambil komoditas dari seluruh Sumatera bagian selatan, Lampung adalah lokasi yang paling strategis karena memiliki pelabuhan laut dalam,” kata Mirza.

Melalui kemitraan erat dengan Citaglobal Berhad, Gubernur Mirza berharap dapat membuka gerbang investasi yang lebih luas dari Malaysia. Langkah ini sekaligus memperkuat transformasi ekonomi Lampung dari sektor agraris hulu menuju provinsi industri berbasis energi hijau yang berkelanjutan.

Cek berita dan artikel lainnya di Google News dan ikuti WhatsApp Channel Lampung Post Update

Iklan Artikel 4

BERITA TERKINI