Bandar Lampung (lampost.co)–Dalam agenda buka puasa bersama jurnalis, Ketua Baznas Lampung, Iskandar Zulkarnain, menekankan bahwa ibadah puasa Ramadan memiliki dimensi sosial yang kuat. Selain memperbanyak ibadah spiritual, umat Islam didorong untuk meningkatkan kepedulian melalui infak, sedekah, dan zakat fitrah.
Iskandar menganalogikan peran zakat dengan pajak dalam struktur kenegaraan. Keduanya berfungsi sebagai motor penggerak pembangunan dan penguatan ekonomi, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Zakat memiliki peran strategis untuk membangun bangsa dan ekonomi umat. Seperti halnya pajak yang dibayarkan warga negara, zakat adalah modal untuk menyejahterakan mereka yang berhak menerimanya,” ujar Ahli Pers Dewan Pers tersebut, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia juga mengingatkan tentang tiga fase Ramadan, di mana saat ini umat sedang bersiap memasuki fase penutup atau sepuluh hari terakhir (Itqun Minannar) sebagai momentum pembebasan dari api neraka dan perburuan malam Lailatul Qadar.
Tantangan Target dan Rasio
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung, Sigit Danang Joyo, memaparkan tantangan fiskal tahun ini. Target penerimaan pajak institusinya naik 26% menjadi Rp12,7 triliun dari sebelumnya Rp10,08 triliun.
Sigit menjelaskan bahwa kenaikan ini selaras dengan peningkatan postur APBN, namun ia menyoroti tax ratio Indonesia yang masih rendah di angka 9%, jauh tertinggal dari Malaysia (26%) dan Singapura (30%). Rendahnya rasio ini dipengaruhi tiga faktor utama:
-
Metodologi Perhitungan: Perbedaan klasifikasi penerimaan (seperti iuran jaminan sosial) dibandingkan negara lain.
-
Celah Kebijakan (Policy Gap): Pemberian insentif investasi jangka panjang yang mengurangi potensi penerimaan jangka pendek.
-
Kepatuhan Wajib Pajak: Perlunya peningkatan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
Melalui momentum Ramadan ini, kedua instansi berharap semangat berbagi dan kepatuhan warga negara dapat bersinergi demi keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional.








