Bandar Lampung (Lampost.co) — Kondisi sektor perumahan di Bandar Lampung sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang kontras antarsegmen. Di tengah tekanan ekonomi, pasar perumahan bersubsidi justru mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. Sedangkan, pasar segmen perumahan komersial masih tertekan.
Branch Manager BTN Kantor Cabang Bandar Lampung, Dadi Supriyadi, menyebut BTN sebagai bank yang fokus pada pembiayaan perumahan rakyat melihat tren positif pada rumah subsidi. Pertumbuhan pembelian untuk segmen perumahan subsidi di 2025 bahkan mencapai 78 persen secara tahunan.
“Untuk wilayah Bandar Lampung, pertumbuhan pembelian rumah bersubsidi tumbuh 78 persen daripada tahun lalu,” ujar Dadi.
Ia menjelaskan, pada 2024 realisasi rumah subsidi di Bandar Lampung tercatat sebanyak 3.367 unit. Sementara pada 2025 hingga 18 Desember, realisasi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencapai 5.893 unit. “Jumlah ini hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya,” kata dia.
Menurut dia, lonjakan tersebut menunjukkan pasar residensial rumah bersubsidi di Bandar Lampung masih sangat prospektif. Kondisi itu terdorong tingginya kebutuhan hunian serta peningkatan kemampuan daya beli masyarakat.
“Artinya memang pasar residensial untuk rumah bersubsidi di Bandar Lampung ini bagus. Sebab, angka backlog masih tinggi dan kemampuan daya beli masyarakat sudah meningkat,” ujarnya.
Ia menilai situasi tersebut juga diperkuat kebijakan pemerintah yang memberikan stimulus langsung ke sektor properti. Salah satunya melalui fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
“Kondisi itu juga terpengaruh kebijakan pemerintah, berlaku PPN DTP 100 persen untuk properti di bawah Rp2 miliar. Ini menjadi stimulus yang sangat membantu,” kata Dadi.
Pangsa Pasar Properti Lampung
Untuk wilayah Lampung secara umum, pangsa pasar properti masih dominasi rumah subsidi. Hal itu sejalan dengan struktur pendapatan masyarakat.
“Di Lampung, pangsa pasar memang masih dominasi rumah subsidi karena tingkat UMP sekitar Rp3,4 juta per bulan,” ujarnya.
Pada segmen properti komersial, ada perlambatan sepanjang 2025. Tekanan ekonomi membuat permintaan di segmen ini belum pulih sepenuhnya.
Meski begitu, BTN tetap optimistis kinerja properti komersial di Bandar Lampung akan membaik pada 2026. Optimisme tersebut berdasarkan peningkatan kredit produktif yang terjadi sepanjang 2025.
“Kami optimistis 2026 segmen ini akan meningkat. Kredit produktif di 2025 naik 21 persen, artinya kami berharap ekonomi di 2026 ikut terungkit,” kata dia.








