Jakarta (Lampost.co) — Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai mengguncang stabilitas energi dunia. Perang yang berlangsung satu bulan ini menahan distribusi minyak global. Jalur vital Selat Hormuz masih terbatas untuk pelayaran tertentu.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Gangguan distribusi langsung memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak kini menembus US$100 per barel. Dampaknya, harga bahan bakar ikut melonjak di banyak negara.
Negara-negara Asia Tenggara pun bergerak cepat. Mereka mulai menerapkan kebijakan darurat untuk menjaga pasokan energi.
Malaysia Pangkas Kuota BBM Bersubsidi
Pemerintah Malaysia memilih mengatur ulang distribusi BBM subsidi. Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan kebijakan itu pada 26 Maret 2026. Lonjakan harga minyak membuat beban subsidi melonjak drastis. Nilainya naik dari 700 juta ringgit menjadi 3,2 miliar ringgit.
Kuota Dikurangi, Harga Tetap Dijaga
Mulai 1 April, kuota BBM subsidi RON95 turun dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan. Meski begitu, harga tetap terjaga di level 1,99 ringgit per liter untuk melindungi daya beli masyarakat. “Keputusan itu kami hitung matang agar rakyat tidak terbebani,” ujar Anwar.
Pemerintah juga memastikan sektor transportasi tetap mendapat prioritas. Pengemudi logistik dan ojek online mendapat kuota hingga 800 liter.
Filipina Tetapkan Status Darurat Energi Nasional
Filipina mengambil langkah lebih tegas. Presiden Ferdinand Marcos Jr. menetapkan darurat energi nasional. Kebijakan itu tertuang dalam Perintah Eksekutif Nomor 110 yang berlaku sejak 24 Maret 2026. Sebagai negara importir minyak, Filipina sangat rentan terhadap gangguan pasokan global.
Distribusi BBM Diawasi Ketat
Pemerintah membentuk komite khusus untuk mengawasi distribusi energi dan kebutuhan pokok. Mereka juga menindak praktik penimbunan dan manipulasi harga.
Selain itu, Filipina mempercepat transisi energi. Pemerintah mendorong penggunaan kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Vietnam Terapkan WFH demi Hemat Energi
Vietnam memilih pendekatan berbeda. Pemerintah meminta perusahaan menerapkan kerja dari rumah atau WFH. Langkah itu bertujuan mengurangi konsumsi bahan bakar akibat mobilitas harian. Kebijakan itu mengingatkan pada masa awal pandemi Covid-19.
Harga BBM Naik
Vietnam juga menaikkan harga BBM secara signifikan. Harga diesel bahkan sempat melonjak lebih dari dua kali lipat. Pemerintah sempat menyesuaikan harga dua kali dalam satu hari untuk menstabilkan pasar.
Selain itu, Vietnam membuka impor dari negara seperti Qatar, Kuwait, dan Jepang untuk menjaga pasokan.
Myanmar Batasi Pembelian BBM dengan Sistem Digital
Myanmar mulai membatasi pembelian BBM menggunakan sistem barcode dan QR code. Setiap kendaraan hanya boleh membeli BBM satu hingga dua kali per minggu. Kebijakan itu diuji coba di Yangon dan Naypyitaw sejak pertengahan Maret.
Dampak Meluas ke Transportasi dan Penerbangan
Krisis BBM juga memukul sektor transportasi udara. Beberapa maskapai menghentikan rute domestik akibat kekurangan bahan bakar. Pemerintah bahkan meminta pegawai bekerja dari rumah setiap hari Rabu untuk menghemat energi.
Indonesia Siaga, Diversifikasi Pasokan Energi
Indonesia memilih langkah antisipatif. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah sedang mencari sumber impor alternatif. Instruksi itu datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Meski begitu, Pemerintah memastikan harga BBM subsidi belum akan naik dalam waktu dekat. Cadangan energi nasional juga masih berada di atas batas aman. Namun, pemerintah tetap waspada terhadap dinamika global yang sulit diprediksi.
Krisis Energi Bisa Semakin Dalam
Ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak menjadi kombinasi berbahaya bagi ekonomi global. Jika konflik terus berlanjut, tekanan terhadap energi dan inflasi akan semakin besar.
Negara-negara Asia Tenggara kini berlomba menjaga stabilitas. Langkah cepat menjadi kunci untuk menghindari krisis yang lebih dalam.








