Jakarta (Lampost.co) — Kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kembali menjadi sorotan. Pemerintah mencatat defisit mencapai Rp240,1 triliun hingga akhir Maret 2026. Angka itu langsung memicu perhatian publik karena terjadi di awal tahun anggaran.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan defisit tersebut setara 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menegaskan kondisi itu bukan sesuatu yang mengejutkan.
“Ketika ada defisit, masyarakat jangan kaget, memang anggaran kita didesain defisit,” ujar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin (6/4).
Menurutnya, pemerintah memang merancang APBN dengan skema defisit untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan.
Belanja Negara Melonjak Tajam
Salah satu penyebab utama defisit berasal dari lonjakan belanja negara. Hingga Maret 2026, total belanja mencapai Rp815 triliun.
Angka itu meningkat 31,4 persen daripada periode yang sama tahun sebelumnya. Belanja pemerintah pusat menjadi komponen terbesar dengan nilai Rp610,3 triliun.
Rincian Belanja Pemerintah
Belanja kementerian dan lembaga tercatat sebesar Rp281,2 triliun. Sementara itu, belanja non kementerian dan lembaga mencapai Rp329,1 triliun.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan transfer ke daerah Rp204,8 triliun. Lonjakan belanja itu menunjukkan pemerintah aktif menjalankan program kerja sejak awal tahun.
Pendapatan Negara Tumbuh, Tapi Belum Cukup
Di sisi lain, pendapatan negara juga mengalami kenaikan. Hingga Maret 2026, pendapatan tercatat Rp574,9 triliun.
Angka itu tumbuh 10,5 persen secara tahunan. Namun, jumlah tersebut masih lebih rendah daripada belanja negara.
Sumber Pendapatan Negara
Penerimaan perpajakan menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp462,7 triliun. Penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun. Sementara itu, kepabeanan dan cukai menyumbang Rp67,9 triliun.
Selain pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp112,1 triliun. Pemerintah juga mencatat penerimaan hibah Rp100 miliar.
Pemerintah Pastikan APBN Tetap Terkendali
Purbaya menegaskan pemerintah akan terus memantau kondisi APBN sepanjang tahun. Ia memastikan pengelolaan anggaran tetap dilakukan secara hati-hati.
Strategi tersebut membuat pemerintah berharap defisit tetap berada dalam batas aman. “Kami monitor terus selama setahun akan seperti apa pendapatannya dan belanjanya. Jadi kita berhati-hati dalam hal ini,” ujarnya.
Outlook APBN 2026 dan Tantangan ke Depan
Ke depan, pemerintah menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara belanja dan pendapatan. Di satu sisi, belanja tinggi butuh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain pendapatan harus terus ditingkatkan.
Kondisi global yang tidak pasti juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah APBN 2026. Jika terkelola dengan tepat, defisit itu dapat menjadi alat untuk mempercepat pembangunan nasional.








