Bandar Lampung (Lampost.co) — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan di sejumlah sekolah sejak pertengahan 2025. Program itu membantu pemenuhan gizi anak sekolah. Namun, para pedagang di Bandar Lampung merasakan dampak ekonomi yang cukup berat.
Pedagang cabai dan sayuran di Pasar Tamin, Sugih, mengaku aktivitas belanja konsumen menurun sejak MBG berjalan. Ia melihat perubahan pola belanja orang tua yang kini jarang membeli bahan makanan untuk bekal anak. Ia menyebut penurunan pembeli terasa signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
“Ibu-ibu sebelumnya rutin berbelanja sayur dan lauk setiap pagi. Setelah MBG berjalan, kebiasaan itu mulai berkurang,” kata Sugih, Selasa, 6 Januari 2025.
Penjual makanan siap saji juga terdampak langsung. Banyak pedagang nasi uduk berhenti berjualan karena anak sekolah mendapatkan jatah makan dari MBG. Kondisi pasar pun terlihat lebih sepi dari sebelumnya.
Senada, pedagang nasi uduk, Sumilawati, menyebut MBG sangat memengaruhi jumlah pembeli. Penjualan nasi uduk menurun drastis dalam beberapa waktu terakhir.
Selain penurunan pembeli, dia juga menghadapi kenaikan harga bahan baku. Harga kol dan wortel meningkat sehingga ia mengurangi produksi bakwan. Ia khawatir usahanya sulit bertahan jika kondisi itu terus berlangsung.
Dampak MBG juga dirasakan pedagang ayam. Ibra, penjual ayam di Bandar Lampung, mengatakan harga ayam naik sejak Agustus hingga September 2025. Harga yang sebelumnya Rp20 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram kini mencapai Rp26 ribu hingga Rp27 ribu.
“Permintaan ayam ikut menurun. Orang tua jarang membeli ayam untuk bekal anak sekolah. Penurunan pesanan membuat omzet dagangannya ikut menyusut,” ujarnya.
(Restu Amalia)








