Bandar Lampung (Lampost.co) — Literasi keuangan tidak boleh berhenti pada tataran kebijakan atau kegiatan seremonial semata. Sebaliknya, literasi keuangan Lampung perlu menyentuh akar rumput secara nyata dan berkelanjutan.
Poin Penting:
-
Literasi keuangan Lampung harus menyentuh akar rumput.
-
TPAKD Lampung berperan strategis dalam memperluas akses keuangan.
-
Petani kecil membutuhkan akses permodalan formal.
Pengamat Ekonomi Lampung, Asrian Hendi Caya, menungkapkan literasi keuangan harus hadir dalam aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, dia mendorong pemerintah daerah berperan aktif bersama seluruh pemangku kepentingan.
Selain pemerintah, perbankan, akademisi, dan komunitas lokal perlu bergerak secara kolaboratif. Dengan sinergi tersebut, literasi dan inklusi keuangan Lampung dapat menjangkau lapisan masyarakat paling bawah.
Baca juga: Literasi Keuangan Lampung Terus Meningkat Kejar Target Nasional
Asrian menilai Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah atau TPAKD Lampung memegang peran strategis. TPAKD menjadi pintu masuk utama perluasan akses layanan keuangan hingga pelosok Bumi Ruwa Jurai.
Namun, Asrian mengingatkan TPAKD tidak boleh terjebak agenda formal dan rapat administratif. Sebaliknya, program TPAKD harus sederhana, mudah dipahami, dan relevan dengan kebutuhan warga.“TPAKD seharusnya membuka akses keuangan yang luas dan merata bagi masyarakat,” ujar Asrian.
Ia juga menekankan masyarakat harus memahami dan memanfaatkan setiap program TPAKD. Kemudian literasi keuangan akan efektif jika masyarakat merasakan manfaat langsung, seperti kemudahan menabung, akses kredit produktif, dan perlindungan konsumen.
Selain itu, Asrian menyoroti pentingnya akses permodalan bagi petani kecil di Lampung. Sebab, petani kecil menjadi penggerak utama sektor pertanian daerah. Namun, banyak petani masih bergantung pada pembiayaan informal dengan bunga tinggi.
Karena itu, literasi keuangan perlu mengarahkan petani ke lembaga keuangan formal yang aman. Selain permodalan, menggalakkan dan memasifkan edukasi keuangan sejak dini. Edukasi tersebut, seperti dengan memulai melalui kebiasaan menabung di kalangan pelajar. Dengan demikian, generasi muda Lampung memiliki fondasi keuangan yang kuat sejak awal.
Kelola Pendapatan dengan Bijak
Asrian juga menjelaskan pemahaman keuangan membantu masyarakat mengelola pendapatan secara bijak. Selain itu, literasi keuangan dapat mencegah jeratan utang konsumtif dan tidak produktif. Dalam jangka panjang, literasi keuangan berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Oleh sebab itu, Asrian mendorong menjalankan program literasi keuangan Lampung secara berkelanjutan. Program tersebut, harus menyesuaikan karakteristik sosial dan ekonomi lokal. Selain desa pertanian, juga perlu menjangkau nelayan dan pelaku UMKM.
Menurut Asrian, inklusi keuangan tidak boleh sekadar menjadi slogan pembangunan. Sebaliknya, inklusi keuangan harus menjadi fondasi kuat pembangunan ekonomi daerah. “Jika literasi keuangan menjangkau petani kecil, inklusi keuangan akan berdampak nyata,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Lampung dinilai memiliki peluang mempercepat pertumbuhan ekonomi inklusif. Ke depan, Asrian berharap pemerintah daerah lebih serius mengawal program literasi keuangan. Dengan komitmen bersama, literasi keuangan Lampung diyakini mampu menyentuh akar rumput.








