Bandar Lampung (Lampost.co) — Pengamat ekonomi dari Universitas Lampung, Nairobi, menilai kenaikan harga plastik terjadi
karena dua hal utama. Pertama, biaya bahan baku global yang melonjak dan pasokan terganggu.
Sejak sebelum Lebaran 2026, harga plastik kemasan di pasar rakyat sudah naik sekitar Rp2.000–Rp6.000 per pak. Misalnya dari kisaran Rp17.000 menjadi sekitar Rp23.000 per pak. Plastik jinjing dari sekitar Rp18.000 menjadi sekitar Rp28.000 per pak, dan kemasan jenis thinwall dari sekitar Rp27.000 menjadi sekitar Rp30.000 per pak.
“Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga resin dan biji plastik yang bergantung pada minyak dan nafta. Sementara konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan, membuat produsen menahan penjualan dan pasokan di dalam negeri menjadi ketat sehingga posisi tawar penjual menguat,” ujar Nairobi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila itu.
Ke depan, lanjutnya, harga plastik masih ada mungkin akan turun dari level puncak saat ini. Terutama jika ketegangan geopolitik mereda, pasokan minyak dan nafta kembali lebih lancar. Serta upaya pemerintah mencari sumber bahan baku baru dari kawasan lain berhasil menambah pasokan.
“Dalam skenario itu, harga plastik kemasan berpeluang turun sebagian, meski tidak sepenuhnya kembali ke level sebelum Lebaran. Namun selama ketergantungan pada bahan baku impor masih tinggi dan struktur industri serta logistik belum banyak berubah,” ucapnya.
Meskipun demikian, ia memprediksi jika normal, harga plastik ke depan cenderung tetap lebih tinggi ketimbang periode sebelum krisis ini. “Meskipun ada penurunan harga plastik, tetap cendrung lebih mahal dari harga sebelumnya,” kata dia.








