Bandar Lampung (Lampost.co) — Produktivitas komoditas unggulan Lampung masih perlu dorongan agar mampu bersaing di pasar global. Peluang pasar global komoditas unggulan Lampung masih terbuka luas dan bisa lebih optimal, terutama untuk komoditas kopi dan lada.
Eksportir asal Lampung, Sumita, mengungkapkan produktivitas kopi di Lampung saat ini baru mencapai satu ton per hektare. Angka tersebut jauh tertinggal daripada Vietnam yang bisa menghasilkan hingga 2,5 ton per hektare.
“Produksi kopi harus terdorong karena produk ini sangat mudah terjual dan permintaannya besar,” ujarnya.
Hal serupa juga untuk lada. Produktivitasnya masih berada di kisaran 500-600 kilogram per hektare. Peningkatan produktivitas menjadi tantangan penting agar produk unggulan Lampung mampu bersaing di pasar global dari sisi kuantitas maupun kualitas.
“Pertanian justru mengalami penurunan. Pemerintah harus lebih serius mendorong karena permasalahannya jelas, terutama pada kopi dan lada yang terkendala sumber daya manusia. Rata-rata petani berusia tua,” kata dia.
Ia menilai sudah saatnya Lampung membuat gerakan nyata di sektor pertanian. Dorongan secara serius akan membuat sektor tersebut mampu menjaga ketahanan ekonomi daerah.
“Selama ini kami juga belum bisa menarik investor besar. Ini seharusnya mendapat perhatian dan produktivitas harus meningkat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Lampung, Yuliastuti, mengatakan pemerintah terus berupaya meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas hasil pertanian, khususnya kopi. Salah satunya dengan memasifkan implementasi sistem budidaya pagar.
Pada sisi kualitas, petani juga didorong untuk penggunaan metode petik merah agar kualitas biji lebih terjaga. Pihaknya juga mengarahkan petani agar tidak menjemur hasil panen langsung di atas tanah. Dukungan berupa bantuan terpal, alat penggiling (grinder), dan huller untuk meningkatkan kualitas pascapanen.
Selain produksi, program hilirisasi juga melalui pelatihan roasting, pengemasan, hingga perluasan akses pasar yang melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Ekspor Kopi Lampung
Yuli menambahkan, nilai ekspor kopi Lampung pada 2025 mencapai lebih dari USD 400 juta dengan tujuan utama Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa.
“Inovasi budidaya, peremajaan tanaman, dan penguatan hilirisasi, kami menargetkan peningkatan signifikan, baik dari sisi volume maupun nilai ekspor kopi Lampung,” kata dia.
Meski kopi robusta masih menjadi komoditas unggulan, Lampung juga mulai mengembangkan arabika di Lampung Barat, khususnya di Kecamatan Sekincau pada ketinggian 1.000-1.200 mdpl. Namun, karakteristik robusta yang kuat tetap menjadi identitas utama Lampung di pasar nasional maupun internasional.