Jakarta (Lampost.co) — Kedelai dan olahannya seperti tempe serta tahu kini menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan gizi anak penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Manfaat protein kedelai tidak hanya menjadi solusi pangan tetapi juga meningkatkan kesehatan gizi anak.
Kandungan proteinnya yang tinggi membuat bahan pangan itu menjadi alternatif penting saat sumber hewani sulit dijangkau.
Ahli gizi, Melly Wijayanti, menuturkan protein memiliki peran penting sebagai zat pembangun tubuh anak. “Protein untuk pembentukan jaringan, otot, serta mendukung tumbuh kembang optimal,” ujar Melly di Jakarta, kemarin.
Ia menambahkan, anak usia sekolah dasar membutuhkan sekitar 25–45 gram protein per hari, tergantung berat badan dan aktivitas. “Idealnya, dalam setiap porsi makan program MBG, setidaknya terdapat 8–15 gram protein agar kebutuhan harian anak terpenuhi,” jelasnya. Selain itu, manfaat protein kedelai juga tidak bisa dianggap remeh dalam mendukung kebutuhan harian ini.
Tantangan Program MBG dalam Penuhi Asupan Protein
Meski program MBG berperan besar dalam peningkatan gizi nasional, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama penyusunan menu ideal. Bahan makanan sumber protein hewani seperti ayam, telur, dan ikan memiliki harga lebih tinggi daripada bahan nabati.
“Penyusun menu menghadapi dilema antara keterbatasan biaya dan kebutuhan gizi anak. Namun, masih bisa berinovasi dengan bahan pangan lokal yang murah dan bergizi, seperti kedelai,” kata dia. Manfaat protein kedelai pada bahan pangan lokal juga memberikan solusi bagi tantangan ini.
Ia menilai tempe dan tahu dapat menjadi penyelamat karena kandungan proteinnya yang tinggi dan mudah diolah. “Daripada makan telur dua hari sekali, lebih baik konsumsi tahu atau tempe setiap kali makan. Gizi tetap terpenuhi dengan biaya lebih hemat,” ujarnya.
Konsumsi Kedelai Nasional Meningkat Berkat Program MBG
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat konsumsi kedelai nasional pada 2025 mencapai 2,75 juta metrik ton. Lonjakan itu seiring meningkatnya permintaan dari program MBG serta tren pangan bergizi di masyarakat.
Namun, sebagian besar kebutuhan kedelai masih terpenuh dari impor. Kondisi itu menunjukkan potensi besar bagi pengembangan produksi kedelai lokal di Indonesia. “Kita punya lahan luas dan sumber daya pertanian yang bisa mendukung swasembada kedelai,” ujar Melly.
Kombinasi Protein Hewani dan Nabati untuk Gizi Seimbang
Melly menegaskan pentingnya keseimbangan antara protein hewani dan nabati dalam menu harian anak. “Kalau memungkinkan, lauk hewani tetap tersaji dua kali seminggu. Namun, kedelai bisa menjadi pengganti sementara tanpa mengurangi manfaatnya,” katanya. Manfaat protein kedelai tetap terjaga dalam keseimbangan ini.
Menurutnya, program MBG tidak hanya sekadar memberikan makanan gratis, tetapi juga memastikan setiap porsi memiliki nilai gizi seimbang. “Anak-anak penerima MBG harus mendapatkan asupan bergizi yang mendukung pertumbuhan, kecerdasan, dan masa depan mereka,” tegas Melly.
Komoditas dengan harga terjangkau dan kandungan gizi tinggi dari kedelai serta olahannya menjadi pahlawan gizi bagi anak penerima MBG. Di tengah keterbatasan biaya, protein nabati terbukti mampu menjaga kebutuhan nutrisi tetap tercukupi. Manfaat protein kedelai sangat berperan dalam kondisi ini.
Dia berharap pemerintah dan masyarakat terus mendukung peningkatan produksi kedelai lokal. Sehingga, program seperti MBG bisa berkelanjutan dan lebih berdampak bagi generasi muda Indonesia.








