UMAR ROBBANI
PENINGKATAN peran fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti klinik kesehatan dan Puskesmas harus segera diwujudkan untuk mempersiapkan masyarakat menjalani keseharian pascapandemi Covid-19.
“Ketika faktor pengendalian harus dikedepankan dalam menjalani kehidupan pascapandemi, saya kira peran para petugas kesehatan di fasilitas kesehatan yang dekat dengan masyarakat seperti Puskesmas dan klinik-klinik kesehatan sangat penting,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, Senin (13/9).
Berdasarkan catatan Satgas COVID-19 di rentang Agustus hingga Mei 2021, positivity rate harian terendah dilaporkan di Maret, April, hingga Mei berturut-turut dengan angka 7,7%, 8,9%, hingga 8,5%. Peningkatan tajam positivity rate terjadi pada Juli 2021 hingga melampaui 40%.
Namun, sejak itu positivity rate nasional menunjukkan tren menurun, hingga pada Minggu (12/9) tercatat 3,05% di bawah angka ideal dari WHO yaitu 5%.
Menurut Lestari, ketika indikator penyebaran Covid-19 memperlihatkan kecenderungan terus membaik, upaya pencegahan penularan pun harus ditingkatkan untuk menjaga konsistensi penurunan jumlah kasus positif Covid-19.
“Untuk mewujudkan hal itu dibutuhkan tenaga-tenaga kesehatan yang berpengalaman dan memiliki kemampuan yang memadai untuk mengedukasi masyarakat agar peduli terhadap upaya-upaya pencegahan untuk memutus rantai penularan virus korona,” jelas Rerie, sapaan akrab Lestari.
Langkah tersebut, menurut Rerie, dapat direalisasikan lewat peningkatan peran Puskesmas dan sejumlah fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dekat dengan masyarakat, agar upaya edukasi dan pencegahan penularan virus korona dapat dilakukan secara meluas.
“Selain itu, para pemangku kepentingan di daerah juga bisa mengedukasi kelompok masyarakat untuk mengambil peran sebagai kader-kader penyuluh kesehatan, untuk mempersiapkan masyarakat menjalani keseharian dengan disiplin protokol kesehatan.”
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap, sejumlah upaya strategis dalam mempersiapkan masyarakat menjalani norma baru dalam keseharian pascapandemi harus dipersiapkan dengan baik, agar kondisi sebaran Covid-19 yang terkendali bisa terus terjaga.
Kedatangan Vaksin
Di sisi lain, Pemerintah Indonesia kembali menerima vaksin Covid-19 dalam bentuk jadi sekitar 9,5 juta dosis melalui tiga gelombang pengiriman yang tiba di Bandara Soekarno Hatta, Minggu (12/9) dan Senin (13/9).
“Dalam dua hari ini, Indonesia mendapatkan tambahan ketersediaan vaksin jadi sekitar 9,5 juta dosis. Dengan demikian, vaksin yang sudah tiba di Indonesia hingga saat ini mencapai 240 juta dosis lebih, baik dalam bentuk bahan baku maupun vaksin jadi,” kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi melalui keterangan persnya, kemarin.
Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa seluruh vaksin itu tiba di Indonesia melalui pengiriman tahap 58, 59, dan 60.
Ia mengatakan kedatangan vaksin tahap 58 sebanyak 2.296.960 dosis vaksin siap pakai merek Sinovac, tiba di Indonesia pada Minggu (12/9). Vaksin tersebut diperoleh lewat jalur COVAX Facility, yakni solidaritas global yang diprakarsai dengan tujuan pengendalian pandemi COVID-19.
Sedangkan Senin (13/9), Indonesia menerima kedatangan vaksin tahap 59 dan 60 dalam bentuk vaksin jadi Sinovac tiba sekaligus. Vaksin tahap 59 didatangkan sebanyak 5 juta dosis vaksin menggunakan Maskapai Garuda Indonesia. Sedangkan vaksin tahap 60 sebanyak 2.295.680 dosis vaksin jadi yang didapat melalui kerja sama COVAX Facility..
“Terus bertambahnya stok vaksin tentu akan memberikan andil dalam akselerasi cakupan vaksinasi di Indonesia,” katanya.
Menurut Nadia, pemerintah terus bekerja keras mendatangkan vaksin melalui berbagai skema, yakni multilateral, bilateral dan pembelian langsung. Hal ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mempercepat proses vaksinasi di Indonesia agar bangsa ini bisa segera keluar dan bangkit dari pandemi. (IKZ/ANT/S1)
umar@lampungpost.co.id







