BERBAGAI cara dapat dilakukan untuk meningkatkan ekonomi di tengah pandemi covid-19 saat ini. Salah satunya, kopi tempur asal Desa Tempur, Keling, Jepara, Jawa Tengah yang ngetren di tengah masyarakat.
Tidak sedikit masyarakat Desa Tempur berlomba-lomba memproduksi kopi khas tersebut. Beberapa tahun terakhir, masyarakat desa tempur tidak lagi menjual kopi dalam bentuk biji mentah. Mereka sudah banyak menjual kopi dalam bentuk bubuk.
Sayangnya, banyak petani kopi masih kesulitan alat pengolahan agar harga jual produk mereka meningkat.
“Kebutuhannya mesin dan peralatan, mulai dari roasting, penggiling, sampai mesin packag (pengemas). Dari semua produsen kopi belum banyak yang punya alat lengkap,” kata Khusnul Ulum, pengusaha kopi tempur, dalam program Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Rabu (12/1).
Khusnul Ulum mengatakan sudah ada lebih dari 30 warga yang menjadi produsen kopi bubuk kopi tempur. Namun, Penjualan kopi tempur juga sudah menyentuh pasar internasional.
Berawal dari tangan ke tangan, kini Khusnul dan pengusaha kopi tempur lain memanfaatkan media sosial untuk berjualan.
Sementara itu Bupati Jepara Dian Kristiandi menangkap harapan para produsen kopit tempur. Dia akan mengupayakan untuk memberi alat produksi bagi para pengusaha melalui dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan.
Tak hanya itu, untuk meningkatkan pamor kopi tempur, Dian berharap agar pemerintah desa dapat menggerakkan badan dana usaha milik desa. Hal itu bisa dilakukan agar para pengusaha yang sudah berhasil diharapkan dapat membagi ilmunya kepada warga lainnya. (MI/D2)







