DIAN WAHYU KUSUMA
USAHA kecil menengah (UKM) di Lampung Rafins Snack naik kelas setelah mendapat penghargaan Bri Incubator 2020. Pemilik Rafins Snack Kabupaten Pringsewu Muhammad Ravie Cahya Ansor (22) menuturkan setelah mendapat pembinaan dari BRI, Rifins Snack menjadi BRI Incubator go global.
“Brand-nya lebih dikenal luas, jalur distribusi penjualan semakin terbuka, penjualan naik, pemahaman tentang bisnis bertambah,” ujar Ravie, Kamis, 10 Februari 2022.
Ravie membuat usaha Rafins snack, kulit ikan patin, aneka keripik pisang, keripik talas, dan lainnya sejak 2019 lalu.
Ia bersama ibunya Rospawati, mengembangkan usaha tersebut. Saat ini Rospawati mengembangkan cabang Rafins Snack di Pesawaran dengan memanfaatkan pinjaman Kredit Usaha Rakya dari Bank BRI.
UKM yang dirintis Ravie sekarang ini berfokus pula ke pasar ritel dan ekspor.
Rafins Snack telah memasok makanan ringan ke negara tujuan seperti Mesir, Turki, Venezuela, dan Malaysia.
“Lagi proses ke Jepang dan Kenya,” tambah Rafi.
Rafins Snack juga sudah membuka distributor ke Medan, Surabaya, Bali, Jakarta, dan Bandung.
Menurutnya, sekitar 10 ribu penduduk Indonesia berada di Mesir seperti menjadi mahasiswa. “Mereka pada bangga beli produk Indonesia,” ujarnya.
Mengusung tagline, Rafins snacknya anak bangsa, pria kelahiran 1999 ini menjelaskan ia membukukan transaksi ekspor produk makanan ringan ke Mesir senilai 35.000 dollar AS atau sekitar Rp500 juta.
Ekspor ini terwujud melalui penandatanganan nota kesepahaman yang dilangsungkan secara hibrid antara Rafins Snack asal Lampung dan Almo Mart Asian Supermarket asal Mesir.
Ravie juga menjadi pembina rumah kreatif BUMN yang berada di Dermaga Eksekutive Pelabuhan Bakauheni dan Bengkulu Selatan. Saat mentoring bersama binaan UMKM, Ravie menjelaskan poinnya merujuk pada data dan merunut produk yang dihasilkan UMKM sampai dengan pemasarannya.
“Mereka (UKM) bikin produk tapi masih bingung mau jual kemana. Bisnis itu banyak aspek, Jadi kita harus tahu, siapa target bapak atau ibu, mahasiswa, pekerja, karena profile itu penting. UMKM penting mau jual kemana. Kalau jual pupuk kan jarang mahasiswa beli, jadi yang cocok bapak atau ibu yang mau bercocok tanam,” terang pria asal Pringsewu ini.
Menurutnya produk UMKM harus ada pembeda dibanding dengan produk lainnya agar memiliki ciri khas.
“Semoga UMKM di Lampung bisa lebih beragam agar muncul banyak pilihan yang bagus-bagus di Lampung, bisa adaptif dan lebih kolaboratif antar generasi,” tutup Ravie.***







