YULAILA Agustina [33 tahun] dan Yuniarti [57] mulai membentangkan kain katun warna putih ukuran 2×1 meter. Kain katun tersebut sudah direndam menggunakan air rebusan daun mangga. Selanjutnya lima jenis dedaunan mereka siapkan. Ada daun jarak kepyar, jarak ulung, air mata pongantin, mangsi, dan yerba porosa. Lima jenis daun ini ditaruh diatas kain. Daun yang sudah disusun rapi itu kemudian ditutup kembali dengan kain warna putih di atasnya. Selanjutnya, Yulaila dan Yuniarti berjalan diatas kain secara perlahan. Prosesnya bisa 10 menit.
Lalu, kain berisi lima jenis daun itu digulung dan diikat dengan tali khusus. Selanjutnya, kain dikukus selama 2 jam. Selanjutnya, proses pengeringan kain di bawah sinar matahari. Setelah kain kering, disetrika untuk menghilangkan kerutan, dan kain ecoprint sudah siap dijual. Secara umum, proses pembuatan satu kain ecoprint bisa membutuhkan 10 hari.
Anggraini Kumalasari [48 tahun], pemilik Kahut Siger Bori, menunjukkan proses pembuatan ecocprint di rumah produksinya, di Pagar Alam, gang. Ken Arok No.10/22, Labuhan Ratu, Kec. Kedaton, Kota Bandar Lampung, Jumat (11/2/2022).

Lampung Post/ Dian Wahyu K.
Ia memberdayakan perempuan yang tidak punya pekerjaan untuk dilatih menjadi perajin kain ecoprint. Pelatihan yang diberikan Anggraini kepada perempuan itu gratis. Bahkan, kadang ada peserta yang dari luar kota.
Di Kahut Sigerbori, semua pekerja perajin kain adalah perempuan. Ke depan, Anggraini ingin peserta yang sudah berlatih tentang ecoprint di Kahu Siger Bori bisa mendapat sertifikat kemampuan. Kahut Sigerbori punya tagline mencintai bumi, memberdayakan masyarakat.
Bagi Anggraini, pelatihan kepada kaum perempuan ini sebagai wujud kepeduliannya dengan lingkungan sekitar. Ia membuat kegiatan bersama para wanita tentang bagimana membuat ecoprint. Ia juga membina dan bermitra dengan petani bunga di Gunung Terang, Bandar Lampung. Pentingnya bermitra bagi petani perempuan ini, karena bahan baku kain ecoprint adalah dari tanaman. Untuk itu, menjalin kerjasama dengan petani wanita amatlah penting bagi Anggraini.
Meski begitu, bahan baku ecoprint bisa dari gulma seperti rumput. Beberapa konsumennya bahkan meminta warna tertentu dari satu jenis tanaman. Anggraini bisa mewujudkan permintaan konsumen, namun tetap dengan prinsip bahwa warna yang dihasilkan oleh tanaman tergantung dari banyak faktor, salah satunya cuaca.
Jadi warna kain dan motif yang dibuat oleh Yulaila dan Yuniarti menjadi kejutan bagi mereka karena hampir setiap proses pembuatan motif dan warna nyaris tidak sama. Pemilik Kahut Seger Bori ini pun menuturkan warna dan motif dari alam ecoprint menjadi ciri khas yang ia teruskan ke konsumennya.***







