NENENG Suriyani mengenalkan produk keripik buah kering. Biasanya buah meja disajikan secara fresh atau segar, tapi Neneng membuat buah menjadi olahan keripik yang lezat.
Neneng sudah setahun ini memproduksi keripik buah. Ia merintis usahanya dari nol.
Untuk mendapatkan resep sampai sekarang ini, ia membutuhkan enam bulan percobaan. Satu ton buah segar lenyap dari hasil percobaannya.
“Gagal satu ton lebih. Satu tahun baru jadi bagus (resepnya),” ujarnya.
Ia juga pernah mendatangkan trainer dari Malang untuk mengajarkan pembuatan produk keripik buah.
Berbekal tiga unit penggoreng vakum atau vacuum friying, Neneng membuat olahan keripik buah. Penggorengan vakum itu berkapasitas 40 liter, 52 liter dan 100 liter.
Sekali mengisi minyak makan, bisa dilakukan untuk 10 kali penggorengan. Satu kali proses mencapai 2-3 jam.
Ada keripik buah nanas dan keripik buah campuran seperti pisang, salak, nagka, dan nanas.
Semua bahan keripik atau buah segar ini ia dapatkan dari Lampung Timur. Saat ditemui di Badnar Lampung, Senin 7 Maret 2022, Neneng membawa produknya di bazar UMKM.
Neneng datang dari Desa Labuhan Ratu IV, kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur untuk menjajakan produknya.
Produk Darsa Keripik, merek dagangnya kini sudah bisa didapatkan di toko oleh-oleh khas Lampung. “Peminatnya cukup banyak di pusat oleh-oleh di bandar Lampung,” kata Neneng.
Produk Darsa Keripik juga sempat ia bawa ke rumah kreatif BUMN binaan Bank BRI melalui UMKM binaan BRI.
Ia harap pembinaan UMKM dari instansi makin terus dilakukan supaya produk lokal Lampung, yang menggunakan bahan buah-buahan lokal bisa terus hidup.***







